Kabupaten Tanah Datar

Sabodam Rp249 Miliar Dibangun di Lereng Marapi, Ikhtiar Nyata Lindungi Masyarakat dari Ancaman Galodo

45
×

Sabodam Rp249 Miliar Dibangun di Lereng Marapi, Ikhtiar Nyata Lindungi Masyarakat dari Ancaman Galodo

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar 

Aliran Batang Malana yang berhulu di Gunung Marapi selama puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Airnya menghidupi pertanian, memenuhi kebutuhan warga, dan menopang aktivitas ekonomi di sejumlah nagari. Namun di balik manfaat tersebut, sungai ini juga menyimpan ancaman yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bencana.

Peristiwa galodo yang melanda kawasan lereng Marapi beberapa waktu lalu menjadi pengingat pahit betapa dahsyatnya kekuatan alam ketika material vulkanik bercampur dengan derasnya aliran sungai. Batuan, pasir, lumpur hingga batang kayu yang terseret arus telah meninggalkan kerusakan dan duka mendalam bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.

Belajar dari tragedi tersebut, pemerintah kini mengambil langkah konkret melalui pembangunan sabodam di sejumlah titik strategis kawasan aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi.

Pembangunan sabodam secara resmi ditandai dengan peletakan batu pertama (ground breaking) oleh Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Dody Hanggodo di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, pada 3 Maret 2026 lalu.

Proyek pengendali sedimen tersebut memiliki nilai investasi mencapai Rp249 miliar dan menjadi salah satu program mitigasi bencana terbesar yang pernah dilaksanakan di kawasan terdampak galodo lereng Marapi.

Sabodam dibangun pada tiga lokasi utama, yakni Batang Lona di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Batang Anai di Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, serta Batang Pagu-Pagu di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto.

Keberadaan sabodam memiliki fungsi vital sebagai benteng pertahanan pertama dalam mengendalikan material vulkanik yang terbawa aliran sungai saat terjadi banjir lahar dingin maupun galodo. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menahan dan mengendalikan batuan, pasir, lumpur serta kayu yang berpotensi menghantam kawasan permukiman dan lahan pertanian di bagian hilir.

Dengan pengendalian material sedimen yang lebih baik, risiko kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, hingga ancaman terhadap keselamatan masyarakat diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan.

Lebih dari sekadar proyek konstruksi, pembangunan sabodam merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana. Infrastruktur ini menjadi simbol hadirnya negara dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan ancaman alam di lereng Gunung Marapi.

Keberadaan sabodam juga menjadi harapan baru bagi masyarakat Tanah Datar. Harapan agar lahan pertanian tetap produktif, aktivitas ekonomi berjalan normal, dan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan rasa aman yang lebih baik.

Di tengah tingginya aktivitas vulkanik dan potensi bencana hidrometeorologi yang masih mengintai, pembangunan sabodam menjadi langkah strategis untuk memastikan tragedi yang pernah terjadi tidak kembali menimbulkan dampak sebesar sebelumnya.

Dengan dukungan seluruh pihak, pembangunan sabodam di kawasan Batang Malana diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Tanah Datar yang lebih tangguh, lebih siap, dan lebih aman menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *