PADANG, RELASIPUBLIK – Tari dan musik bukan sekadar hiburan mata dan telinga. Lebih dari itu, tari adalah simbol pesan yang sakral, tentang hubungan manusia dengan alam dan pelajaran hidup yang diwariskan leluhur.
Pesan itulah yang dibawa anak-anak muda Kabupaten Kepulauan Mentawai dari Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, saat tampil memukau di malam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026, Rabu (30/9/2026).
Tergabung dalam Komunitas Sinuruk Mentawai, mereka sejatinya dijadwalkan tampil Selasa (29/9/2026). Namun jarak jauh dari Siberut membuat rombongan yang berangkat dengan Kapal Mentawai Express tak terkejar waktu pentas. Mereka pun meminta panitia untuk tampil sehari kemudian.
Keterlambatan itu terbayar lunas. Di atas panggung Taman Budaya Sumatera Barat, mereka mempersembahkan Turuk Lagai, tari warisan leluhur Mentawai yang terinspirasi dari gerak-gerik satwa di hutan.
Salah seorang penari, Ardi Surinosakulo, menjelaskan Turuk Lagai mengisahkan tentang Uliat Manyang dan Bilou. Para penari menirukan karakter dan gerakan hewan seperti burung dan monyet khususnya bilou, primata endemik Mentawai melalui gerakan tubuh yang khas dan ekspresif.
“Penampilan yang kami tampilkan tadi adalah bagaimana menirukan keadaan alam, tata cara hewan bebas di alam liar. Seekor burung dan seekor monyet bercengkrama di dalam hutan yang asri, di hutan yang tidak dirusak, hutan yang kita jaga. Hutan Mentawai adalah tempatnya hewan endemik dan juga rumah kita orang Mentawai,” ujar Ardi.
Turuk Lagai, kata Ardi, tidak sekadar tontonan. Tarian ini memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan, kepercayaan, dan hubungan masyarakat Mentawai dengan alam. Gerakan tari menjadi bentuk ungkapan syukur dan penghormatan terhadap lingkungan tempat mereka hidup berdampingan.
Iringan musiknya pun khas, menggunakan alat musik tradisional Gajeuma yang berbentuk panjang, serta Sinai. Karena keterbatasan alat yang bisa dibawa dari Siberut, mereka berkreasi menggunakan botol kaleng sebagai pengganti Sinai.
Yang istimewa, seluruh penari dan pemusik adalah anak muda. Bagi mereka, naik panggung bukan soal popularitas, melainkan soal tanggung jawab menjaga warisan.
“Motivasinya adalah mari kita menjaga budaya kita, karena budaya adalah identitas kita orang Mentawai,” tegas Ardi.
Ia berharap generasi muda tidak tergerus arus teknologi, melainkan justru memanfaatkannya sebagai corong untuk menyuarakan adat istiadat.
“Harapan kami untuk anak muda, mari kita mengenal budaya kita lebih dalam lagi. Jangan terbawa suasana oleh teknologi, mari kita jadikan teknologi itu sebagai sarana bagaimana kita menyuarakan adat istiadat kita,” katanya.
Kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Dinas Kebudayaan, Komunitas Sinuruk Mentawai berharap tidak ditinggalkan. Mereka ingin terus dirangkul agar budaya Mentawai bisa terus dipentaskan dan menjadi bekal untuk keturunan di masa depan.
“Mari kita bersama-sama menjaga hasil karya kita, hasil alam kita, hasil budaya kita. Kami berharap jangan meninggalkan kami, terutama Mentawai. Mari Sumatera Barat memakai kami lebih lanjut agar budaya ini senantiasa terpancar sampai ke belahan dunia,” pungkasnya.












