Berita UtamaPendidikanTERBARU

Masa Pandemi, Tantangan Transformasi Pendidikan Amat Tinggi

208
×

Masa Pandemi, Tantangan Transformasi Pendidikan Amat Tinggi

Sebarkan artikel ini

PADANG,RELASIPUBLIK – Universitas Negeri Padang melaksanakan Wisuda Ke-120 periode September 2020 untuk kedua kalinya dalam sejarah UNP dilaksanankan secara virtual. Dibagi dua sesi yakni Jumat 25 September dan dilanjutkan hari Sabtu 26 September 2020.

Pada periode ini, Universitas Negeri Padang mewisuda sebanyak 1763 orang lulusan.

Adapun lulusan tersebut program Diploma 3 231 orang S1 dan D4 Kependidikan 913 orang S1 dan D4 Non Kependidikan 341 orang, program Profesi Konselor 27 orang, Magister 234 orang dan Doktor 17 orang.

Rektor UNP Prof Ganefri Phd mengatakan, Dijelaskan Ganefri, transformasi yang dilakukan UNP dalam tantangan pandemi Covid ini, telah melahirkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis digital, dan berbagai proses interaksi pembelajaran daring, pembelajaran virtual yang juga menghadirkan berbagai video materi perkuliahan, yang dibuat oleh para dosen di lingkungan UNP, yang sejatinya telah menghadirkan berbagai kebaruan dalam pembelajaran daring yang dilakukan.

“Oleh sebab, itu proses pembelajaran virtual yang dilakukan tidak sekadar menjadi pusat literasi, tetapi juga menjadi platform yang bisa mengakomodir sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi yang tumbuh dan berkembang saat ini,” ujar Ganefri, di Padang, Jumat 25 September 2020.

Hal ini juga dibarengi oleh 10 (inovasi pelayanan akademik dalam layanan akademik diantaranya e-Learning versi 2, e-Office, e-Wisuda, e-Ijazah, e-UKT, e-Votting, e-Simta, e-Remun dan sebagai yang berada dalam portal Rumah Gadang UNP.

“Dengan gelar, dan berarti juga dengan pengetahuan yang dimiliki, kami mengharapkan lulusan Universitas Negeri Padang terus menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan kehidupan bermasyarakat di Negara Republik Indonesia, seraya terus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Ganefri.

Menurut Ganefri, menyikapi pemikiran seorang pakar ilmu sosial Arnold J. Toyn Bee, dengan konsep challenge and response, menurutnya lahirnya sebuah perubahan dan peradaban di dunia, sangat terkait dengan adanya tantangan dan tanggapan, semakin tinggi suatu tantangan akan menuntut semakin tinggi pula tanggapan terhadap tantangan tersebut, sehingga lahirlah perubahan atau transformasi.

“Korelasi pemikiran Toyn Bee tersebut, sangat relevan dengan kondisi yang kita hadapi sejak lebih kurang 7 bulan lalu, seakan selalu menyiratkan perlunya spirit perubahan menghadapi tantangan, yaitu pandemi Covid-19, yang tak bisa dipungkiri berdampak besar pada dunia pendidikan, termasuk pendidikan tinggi,” ujar Ganefri.

Lanjut Ganefri, tahun Akademik 2020/2021 bagi pendidikan tinggi telah pihaknya mulai Agustus 2020 dengan menerapkan metode pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring untuk mata kuliah teori, demikian juga untuk mata kuliah praktik sedapat mungkin tetap dilakukan dengan daring.

“Penggunaan teknologi berbasis daring adalah salah satu jalan keluar, untuk memfasilitasi pendidikan di perguruan tinggi agar tetap berjalan,” ujarnya.

Ditambahkan Ganefri, perkuliahan bersama di waktu yang sama memanfaatkan Learning Management System (baik sinkronous atau asinkronous), menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp Group, telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.

“Tentu dalam memasuki tahapan baru dalam sistem pendidikan di tengah pandemi ini, adanya cultural shock atau belum siap menerima perubahan baru. Saya mengucapkan slamat atas gelar akademik yang telah diraih, sesuai dengan bidang ilmu yang ditempuh,” ujar Ganefri mengakhiri sembari tersenyum khasnya. (Chan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *