sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar – Suasana meriah menyelimuti halaman Kantor Wali Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, pada Sabtu (30/8). Ratusan masyarakat tumpah ruah menghadiri Festival Seni dan Budaya Nagari Sumanik yang mengusung tema penuh filosofi:
“Alah Bauriah Bak Sipasin, Kok Bakiek Alah Bajajak. Habis Tahun Baganti Musim, Sandi Adat Jan Dianjak.”
Tema ini merefleksikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga adat dan budaya agar tidak terkikis zaman, meski kehidupan terus berubah dan generasi terus berganti.
Atraksi Seni Anak Nagari
Festival ini dimeriahkan dengan beragam penampilan seni dari anak nagari, mulai dari silat tradisi, tari kreasi, hingga penampilan kesenian lainnya yang dibawakan oleh siswa-siswi dari TK, SD, hingga SMP se-Nagari Sumanik. Suara talempong dan gendang berpadu dengan semangat anak-anak yang tampil percaya diri, menciptakan suasana penuh kebanggaan dan kehangatan.
Bagi masyarakat Sumanik, festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi wadah untuk menanamkan rasa cinta terhadap seni, budaya, dan adat sejak usia dini.
Tujuan Festival: Melestarikan dan Memperkuat Identitas Nagari
Dalam sambutannya, Wali Nagari Sumanik, Yopi Hendra, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya nyata nagari dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat identitas generasi muda.
“Festival ini kami gelar untuk memberi ruang ekspresi bagi anak-anak kita, agar mereka mencintai dan menjaga seni serta budaya nagari sendiri. Tradisi adalah warisan berharga, jangan sampai hilang ditelan zaman. Melalui festival ini, kita ingin menanamkan nilai-nilai adat dan budaya sejak dini, agar tetap kokoh di masa depan,” ujar Yopi.
Ia juga menambahkan bahwa festival ini menjadi momentum silaturahmi masyarakat serta sarana mempererat persatuan warga Sumanik melalui seni dan budaya.
Apresiasi Meski di Tengah Efisiensi Anggaran
Dukungan terhadap acara ini juga datang dari berbagai pihak. Ketua BPRN Sumanik, Ismed, SE, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya festival, meskipun kondisi keuangan nagari tengah melakukan efisiensi anggaran.
“Kegiatan ini luar biasa. Meski kita berada di tengah keterbatasan anggaran, masyarakat dan nagari tetap bisa melaksanakan festival seni dan budaya dengan penuh semangat. Ini bukti bahwa menjaga adat dan budaya tidak selalu harus dengan biaya besar, tetapi dengan komitmen dan kebersamaan,” ungkap Ismed.
Festival sebagai Cermin Kebersamaan
Acara yang berlangsung hingga malam hari ini tak hanya menampilkan atraksi seni, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, hingga generasi muda duduk berdampingan menikmati setiap penampilan, memperlihatkan kuatnya semangat kolektivitas nagari.
Festival Seni dan Budaya Nagari Sumanik pun menjadi simbol bahwa adat dan budaya bukan hanya warisan, tetapi juga energi pemersatu untuk melangkah maju bersama.(d13)