Kabupaten Tanah Datar

Sasaran Silek di Parak Jua: Ketika Tradisi Dijadikan Strategi Membangun Karakter Generasi Digital

37
×

Sasaran Silek di Parak Jua: Ketika Tradisi Dijadikan Strategi Membangun Karakter Generasi Digital

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap menggerus akar budaya, sebuah langkah sunyi namun strategis lahir di Parak Jua, Batusangkar, Sabtu (14/2/2026). Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, M. Shadiq Pasadigoe, meresmikan Sasaran Silek Kumango Syeh Mhd Said—bukan sekadar gelanggang latihan bela diri, tetapi ruang perlawanan kultural terhadap krisis karakter generasi muda.

Peresmian yang dihadiri para wali nagari se-Tarantang Sayang, tuo silek dari Sungai Tarab, Baringin, dan Salimpaung, serta ninik mamak dan alim ulama itu terasa lebih dari seremoni. Ia menjadi penegasan bahwa silek tidak boleh berhenti sebagai atraksi budaya, melainkan harus bertransformasi menjadi sistem pendidikan nilai.

Diinisiasi oleh Zamruatul Fuadi, sasaran ini dibangun dari kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan generasi Z dan generasi setelahnya tidak tercerabut dari akar adat dan agama. Di ruang inilah silek diposisikan sebagai pintu masuk pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan ketahanan mental—nilai yang semakin relevan di era instan.

Dalam sambutannya, Shadiq menegaskan pentingnya menyiapkan generasi emas yang tidak hanya cakap secara keterampilan, tetapi juga kokoh dalam akhlak. Namun pesan yang lebih dalam adalah tentang keberanian menjadikan tradisi sebagai solusi, bukan sekadar nostalgia.

Sasaran Silek Kumango Syeh Mhd Said dirancang tidak hanya untuk latihan gerak dan jurus. Ia juga menjadi pusat pembelajaran seni baca Al-Qur’an, alua pasambahan, hingga tahfiz. Perpaduan adat dan nilai keislaman ini menghadirkan model pendidikan berbasis kearifan lokal—sebuah pendekatan yang kerap luput dalam diskursus pembangunan modern.

Secara sosial, keberadaan sasaran ini juga memperkuat fungsi surau dan ruang komunal sebagai benteng moral masyarakat. Anak-anak dan remaja memiliki ruang alternatif yang produktif, jauh dari potensi penyimpangan sosial yang mengintai di ruang digital tanpa batas.

Peresmian ini sekaligus menjadi bagian dari agenda Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) Shadiq di Tanah Datar. Namun lebih dari itu, ia mengirim pesan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari beton dan proyek besar. Kadang, ia lahir dari tikar latihan, dari jurus yang diwariskan, dan dari doa yang dilafazkan di antara hentakan kaki silek.

Di Parak Jua, silek kembali menemukan maknanya: bukan hanya mempertahankan diri, tetapi mempertahankan jati diri(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *