sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Pemerintah mulai membangun sabo dam sebagai upaya pengendalian lahar dan sedimen pascabencana banjir bandang dan galodo akibat erupsi Gunung Marapi pada 11 Mei 2024 yang merusak permukiman, sekolah, jembatan, dan berbagai infrastruktur di Kabupaten Tanah Datar.
Pembangunan ditandai dengan groundbreaking oleh Menteri Pekerjaan Umum RI Dody Hanggodo di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Selasa (3/3).
Bupati Tanah Datar Eka Putra menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dimulainya proyek tersebut. Dari 40 usulan sabo dam yang diajukan daerah, pemerintah pusat menyetujui enam unit untuk Tanah Datar.
“Ini sangat penting untuk melindungi masyarakat dari ancaman banjir lahar dan sedimen dari Gunung Marapi,” ujarnya.
Pada tahap pertama 2025–2027, akan dibangun lima sabo dam di Tanah Datar, yakni tiga unit di Batang Malana dan dua unit di Batang Anai, serta satu unit series river training works di Batang Pagu-pagu, Kecamatan X Koto. Sementara di Kabupaten Agam direncanakan tiga sabo dam di Batang Katik.
Proyek senilai Rp249,8 miliar yang dikerjakan kontraktor Subur Berkah KSO ini ditargetkan selesai dalam 739 hari kerja.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pembangunan sabo dam merupakan wujud tanggung jawab negara dalam mengurangi risiko bencana bagi masyarakat di kawasan lereng Marapi.
“Ini bukan sekadar seremonial. Sabo dam menjadi langkah konkret pemerintah untuk mengendalikan sedimen dan meminimalkan dampak banjir lahar,” ujarnya.
Secara keseluruhan, pemerintah merencanakan pembangunan 56 sabo dam di Sumatera Barat yang berhulu di Gunung Marapi, tersebar di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam. Pada tahap awal, delapan unit sabo dam dan satu river training works ditargetkan mampu menampung sekitar 440 ribu meter kubik sedimen(d13)












