sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Prosesi menaiki Rumah Gadang milik Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI di Pagaruyung, Selasa (24/3), bukan sekadar ritual adat. Di balik nuansa religius dan kekeluargaan, tersirat pertemuan antara tradisi Minangkabau dan simbol kekuasaan modern.
Kehadiran Eka Putra dalam acara milik Afriansyah Noor memperlihatkan bagaimana Rumah Gadang tetap menjadi pusat legitimasi sosial—bukan hanya bagi masyarakat adat, tetapi juga bagi figur publik di tingkat nasional.
Eka Putra menegaskan, Rumah Gadang tidak sekadar bangunan fisik, melainkan simbol persatuan dan identitas kolektif Minangkabau. Prosesi doa bersama yang mengawali “naik rumah” menjadi penanda bahwa nilai spiritual masih menjadi fondasi dalam setiap langkah kehidupan, termasuk bagi kalangan elite.
Namun lebih dari itu, momen ini juga menunjukkan bagaimana adat dan kekuasaan saling berkelindan. Kehadiran ninik mamak, alim ulama, dan tokoh masyarakat menjadi penguat legitimasi kultural, sementara figur pejabat negara membawa dimensi simbolik baru: bahwa tradisi tetap relevan dalam ruang publik modern.
Di tengah arus modernisasi, peristiwa ini menegaskan satu hal—Rumah Gadang bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga panggung tempat identitas, kekuasaan, dan budaya bertemu dalam satu narasi yang sama(d13 )












