sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Di tengah derasnya arus informasi digital, pelajar kini tidak hanya dituntut pintar secara akademik, tetapi juga cerdas memilah kebenaran. Ancaman hoaks, perundungan siber, hingga kebocoran data pribadi menjadi risiko nyata yang mengintai generasi muda.
Menjawab tantangan itu, Dinas Kominfo Tanah Datar turun langsung ke sekolah. Melalui penyuluhan literasi digital di SMP Negeri 4 Batusangkar, Selasa (10/3), pemerintah daerah berupaya membekali siswa dengan kemampuan bertahan di dunia maya yang semakin kompleks.
Bupati Tanah Datar yang diwakili Kepala Dinas Kominfo Tanah Datar, Dedi Tri Widono, menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dalam menyaring informasi.
“Anak-anak harus bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan,” menjadi pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Para siswa tidak hanya dikenalkan cara menggunakan internet secara bijak, tetapi juga diajak memahami bahaya nyata seperti hoaks, cyberbullying, hingga penyalahgunaan data pribadi. Dalam konteks ini, media sosial tidak lagi dipandang sekadar ruang ekspresi, melainkan ruang yang penuh risiko jika tidak disikapi dengan cerdas.
Peringatan paling krusial adalah soal privasi. Kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan dinilai membuka celah kejahatan digital yang semakin canggih.
Langkah ini menunjukkan pergeseran pendekatan pendidikan: dari sekadar transfer ilmu menjadi perlindungan terhadap masa depan generasi muda. Sebab di era digital, ancaman terbesar bukan pada keterbatasan akses, melainkan pada ketidakmampuan menyaring informasi.
Tanah Datar, melalui upaya ini, sedang mengirim pesan tegas—melindungi pelajar hari ini berarti memastikan mereka tidak tersesat di dunia digital esok hari(d13)












