Relasipublik.com – Perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-113 Kabupaten Solok melalui Festival Kuliner dan Pawai Budaya bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang strategis untuk menguatkan identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah. Kehadiran Dekranasda Kabupaten Solok dengan tema “Hadir, Berkarya dan Berdampak bagi Pelaku Industri Kerajinan” menjadi sinyal kuat bahwa sektor IKM tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Dalam konteks pembangunan daerah, industri kerajinan memiliki peran penting sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat. Produk-produk seperti batik Salingka Tabek, tenun, dan berbagai kerajinan tangan bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan kearifan lokal yang harus dijaga dan dikembangkan.
Dekranasda Kabupaten Solok, melalui keikutsertaannya dalam Festival Kuliner dan Pawai Budaya, menunjukkan bahwa keberpihakan terhadap pelaku IKM tidak cukup hanya dalam bentuk program di atas kertas. Kehadiran langsung di tengah masyarakat, memfasilitasi promosi, serta membuka akses pasar adalah langkah nyata yang sangat dibutuhkan.
Ketua Dekranasda Kabupaten Solok, Ny. Nia Jon Firman Pandu, menegaskan pentingnya peran aktif dalam mendorong produk lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan harus menjadi komitmen berkelanjutan yang diukur dari sejauh mana pelaku IKM benar-benar merasakan dampaknya.
Di sisi lain, pernyataan Sekretaris Dekranasda yang menyoroti pentingnya festival sebagai sarana promosi memperlihatkan bahwa kegiatan semacam ini memiliki efek ganda: memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Hal ini juga dirasakan langsung oleh pelaku IKM seperti Iyus Salingka Tabek. Pengakuannya bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan penjualan dan memperluas pengenalan produk menjadi bukti konkret bahwa program yang tepat sasaran akan memberikan dampak nyata. Namun demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana efek positif ini tidak berhenti pada event semata, melainkan berlanjut dalam ekosistem pembinaan yang konsisten.
Tema “Hadir, Berkarya dan Berdampak” seharusnya tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi arah kebijakan yang berkelanjutan. HUT ke-113 Kabupaten Solok menjadi momentum refleksi bahwa pembangunan ekonomi daerah harus berpijak pada kekuatan lokal.
Jika Dekranasda mampu menjaga konsistensi dalam pembinaan, membuka akses pasar, serta mendorong inovasi, maka industri kerajinan Kabupaten Solok tidak hanya akan bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang kompetitif di tingkat nasional. (A3)












