Berita UtamaOpini

Tragedi Anak di Solok: Ketika Rumah Tak Lagi Aman, Siapa yang Melindungi Mereka?

37
×

Tragedi Anak di Solok: Ketika Rumah Tak Lagi Aman, Siapa yang Melindungi Mereka?

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi

Relasipublik.com – Kekerasan terhadap anak kembali mengguncang nurani kita. Kasus yang menimpa Sherlyn, bocah tiga tahun di Kabupaten Solok, bukan sekadar peristiwa kriminal ini adalah cermin retak dari kegagalan peran orang tua sebagai pelindung utama anak.

Bagaimana mungkin seorang anak yang seharusnya dipeluk, justru disakiti? Lebih ironis lagi, kekerasan itu dibungkus dengan dalih “pengobatan” dari hal-hal tak masuk akal seperti santet. Ini bukan hanya kekeliruan, tapi bentuk nyata dari pola pikir yang berbahaya dan tidak berperikemanusiaan.

Anak bukan objek pelampiasan emosi, bukan pula alat eksperimen kepercayaan yang menyesatkan. Anak adalah amanah. Mereka lahir dalam keadaan suci, dan tugas kitalah menjaga, membimbing, serta mencintai mereka tanpa syarat.

Kasus ini juga menjadi tamparan keras bagi masyarakat. Terlalu sering kita memilih diam ketika melihat tanda-tanda kekerasan. Kita menganggap itu urusan keluarga, padahal setiap anak berhak atas perlindungan dari siapa pun termasuk dari lingkungan sekitarnya.

Diam adalah bentuk pembiaran. Dan pembiaran adalah awal dari tragedi yang lebih besar.

Sudah saatnya masyarakat berhenti menormalisasi kekerasan dalam bentuk apa pun. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan menyakiti anak, baik atas nama disiplin, tradisi, apalagi kepercayaan yang tidak berdasar.

Peran pemerintah daerah yang cepat tanggap patut diapresiasi, namun ini tidak boleh berhenti sebagai respons sesaat. Harus ada gerakan kolektif edukasi parenting, penguatan peran keluarga, serta keberanian masyarakat untuk melapor.

Orang tua perlu memahami satu hal mendasar: kasih sayang bukan hanya tentang memberi makan atau pakaian, tetapi juga tentang rasa aman, perlindungan, dan kehangatan emosional.

Jika rumah tidak lagi menjadi tempat paling aman bagi anak, maka kita sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang serius.

Mari kita ubah cara pandang. Anak bukan milik untuk diperlakukan semena-mena, melainkan titipan yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kuat ekonominya, tetapi oleh seberapa baik ia memperlakukan anak-anaknya. (A3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *