Padang,relasipublik – Universitas Negeri Padang (UNP) menjajaki kemungkinan menghadirkan mata kuliah baru yang mengakar pada budaya Minangkabau. Direktorat Akademik melalui Sub Direktorat Kurikulum dan Mata Kuliah Umum menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat, Kamis (12/3).Diskusi ini sengaja menghadirkan pemangku adat termasuk Ir. Arkadius, MM., MBA Dt. Intan Bano selaku wakil ketua LKAAM Sumbar, dan Prof. Ganefri, Ph.D Dt. Junjungan nan Bagadiang.,
Kepala Subdit Kurikulum dan Mata Kuliah Umum, Dr. Ulfia Rahmi, M.Pd, mengatakan ide ini muncul dari kegelisahan mereka selama ini. “Kami sadar punya motto yang kuat dan kaya makna, ‘Alam Takambang Jadi Guru’. Nah, dari diskusi internal, kenapa tidak kita turunkan motto itu jadi mata kuliah wajib universitas?” katanya.
Masalahnya, untuk menetapkan nilai-nilai apa yang pas dan melekat, mereka merasa perlu mendengar langsung dari para pemangku adat. Makanya, para Datuk dan Bundo Kandung di lingkungan UNP diundang, juga kepala departemen dan koordinator prodi. Harapannya, mata kuliah penciri UNP nanti benar-benar mewakili kearifan lokal Minang.
Ketua Tim Perumus Naskah Akademik UNP, Prof. Alwen Bentri, M.Pd, menambahkan mata kuliah yang bakal dirumuskan ini tak lepas dari filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. “Itu bagian dari motto kita. Selama ini UNP belum punya matkul penciri yang secara eksplisit mengangkatnya,” katanya.
Rektor UNP, Ir. Krismadinata, Ph.D, menekankan bahwa misi universitas bukan sekedar transfer ilmu. “Saya ingin mahasiswa mendapat nilai selama kuliah di sini (SDG4). Ada karakter yang kita bangun. Makanya, lewat forum ini, mari kita memikirkan nilai apa yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” ujarnya di hadapan peserta yang juga didampingi wakil rektor, dekan, dan kepala badan.
Sementara itu, Ir. Arkadius dalam paparannya mengingatkan soal degradasi nilai adat yang sudah terjadi. Menurutnya, mahasiswa UNP nantinya harus jadi lulusan yang berbudaya (SDG11). “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah itu mutlak jadi jati diri orang Minang. Lewat mata kuliah ini, kita ingin generasi muda tetap menjaga moralitas dan punya benteng menghadapi perubahan zaman (SDG16),” tegasnya.
Prof Ganefri menambahkan, memasukkan muatan Minangkabau ke dalam kurikulum adalah strategi momentum. Bukan sekedar teori, tapi bagaimana membangun karakter. “Jangan sampai murid kita pintar, tapi lepas dari akar budayanya,” ucapnya.
Diskusi yang dimoderatori Dr. Nofrion, M.Pd (Kasubdit Inovasi Pembelajaran, PPL & RPL) ini berlangsung hangat. Semua sepakat, mata kuliah penciri nanti harus jadi jembatan antara intelektualitas dan nilai-nilai lokal yang selama ini pegangan jadi masyarakat Minang. (ab/humas)
#UNP #BeritaUNP #HumasUNP #AlamTakambangJadiGuru #KampusBerdampak #BudayaMinangkabau #SDGs4 #PendidikanBerkualitas #PelestarianBudaya #SDGs11 #KurikulumLokal #KearifanLokal #SDGs16 #UniversitasNegeriPadang












