Solok, Relasipublik.com – Alahan Panjang – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu polarisasi dan konflik sosial, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Nurfirman Wansyah, Apt., M.M. tampil membawa pesan yang berbeda. Bukan sekadar mengingatkan bahaya media sosial, tetapi menawarkan sebuah paradigma baru bahwa ruang digital dapat menjadi tempat merajut perdamaian.
Gagasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kewaspadaan Dini yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Barat di Asbun Resort Alahan Panjang, Kabupaten Solok, 5–6 Juli 2026.
Kehadiran Nurfirman dalam kegiatan tersebut bukan tanpa alasan. Melalui alokasi pokok pikirannya sebagai Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, ia mendorong lahirnya ruang edukasi yang memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi ancaman konflik sosial di era digital.
Dalam paparannya bertajuk “Merajut Perdamaian di Lanskap Digital”, pria yang akrab disapa “Pak Anca” ini mengajak peserta melihat bahwa karakter konflik telah berubah seiring perkembangan teknologi.
Menurutnya, pada abad ke-20 konflik umumnya dipicu persoalan fisik seperti perebutan wilayah, status, maupun sumber daya. Namun memasuki abad ke-21, bentuk konflik bergeser menjadi lebih kompleks melalui penyebaran informasi digital, polarisasi algoritma media sosial, disinformasi, hoaks hingga provokasi berbasis identitas yang mampu menyebar secara global hanya dalam hitungan menit.
“Konflik mungkin tidak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun arenanya telah bergeser. Karena itu cara kita menjaga persatuan juga harus berubah mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Sebagai legislator sekaligus mantan Wakil Bupati Solok Selatan, Nurfirman menilai pendekatan penyelesaian konflik konvensional tidak lagi cukup menghadapi tantangan digital saat ini.
Jika dahulu perdamaian dibangun melalui diplomasi pemerintah, perundingan panjang dan kesepakatan antarnegara, kini generasi muda justru dapat memegang peran strategis sebagai aktor utama dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Ia menggambarkan transformasi tersebut sebagai pergeseran dari bina damai tradisional menuju bina damai digital.
Menurutnya, aplikasi media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, YouTube maupun berbagai platform digital kini dapat menjadi instrumen penyebaran nilai toleransi, literasi, serta penguatan persatuan apabila dimanfaatkan secara bijak.
“Generasi Z bukan hanya pengguna teknologi. Mereka adalah perancang ulang cara masyarakat membangun komunikasi, menyelesaikan perbedaan dan menciptakan ekosistem sosial yang lebih damai,” katanya.
Sebagai apoteker yang terbiasa berpikir sistematis, Nurfirman mengibaratkan hoaks sebagai virus yang menyebar sangat cepat ketika masyarakat tidak memiliki daya tahan literasi. Karena itu, imunisasi terbaik adalah meningkatkan kemampuan masyarakat memilah informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya.
Sementara dari perspektif Magister Manajemen, ia menekankan pentingnya membangun tata kelola informasi yang baik. Menurutnya, kewaspadaan dini tidak lagi hanya berbicara mengenai ancaman fisik, tetapi juga kemampuan mendeteksi gejala konflik sosial yang tumbuh dari ruang digital.
Sedangkan sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, ia menegaskan bahwa investasi terbesar pemerintah ke depan bukan hanya pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga pembangunan karakter, literasi digital, dan budaya dialog masyarakat terutama pada generasi muda.
“Kita tidak boleh kalah cepat dengan penyebar hoaks. Yang harus diperkuat adalah masyarakat yang mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan memilih menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari penyebaran konflik,” tegasnya.
Bimtek yang digelar Badan Kesbangpol Sumbar ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kewaspadaan dini masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan, ketertiban, serta konflik sosial di tengah perubahan lanskap komunikasi yang semakin dinamis.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai deteksi dini potensi konflik, tetapi juga dibekali perspektif baru bahwa menjaga persatuan bangsa pada era digital bukan lagi semata menjadi tugas pemerintah maupun aparat keamanan. Tanggung jawab itu kini berada di tangan seluruh masyarakat, terutama generasi muda yang setiap hari hidup di ruang digital.
Di penghujung pemaparannya, Nurfirman mengajak seluruh peserta menjadikan media sosial sebagai ruang menyebarkan inspirasi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Perdamaian hari ini tidak cukup dijaga di ruang-ruang pertemuan. Perdamaian harus hadir di layar gawai kita, di setiap unggahan, komentar, dan informasi yang kita bagikan. Dari situlah masa depan persatuan Indonesia terus dijaga dan dirawat,” pungkasnya. (A3)












