Oleh : Khairul Jasmi
“Iko apak ang bajoget ko den ha, pant…” Begitu kata seorang penyanyi remix di sebuah link IG. Apa yang tidak berani kita ucapkan secara langsung, ringan saja di media sosial. Sepertinya yang mengucapkan sedang marah pada seseorang yang mungkin menuduhnya tidak berhijab. Hijab itu tak perlu dipersoalkan, urusan dia dengan dirinya dan dengan agamanya. Tapi, bacaruik untuk umum, itu tak baik.
Kata-kata kurang ajar itu enteng di ruang publik. Seenteng asap rokok yang melayang di ruang musik. Seenteng bernapas. Ini sudah di luar adab Minangkabau, jika memang kita beradab.
Kalau kata itu tak sanggup diucapkan di depan mande sendiri, di halaman masjid, atau di dalam rumah gadang, maka kata itu tak boleh diumbar di mana pun. Media sosial termasuk di dalamnya. Kata yang menyebut kelamin, masuk di situ. Kata yang menarik-narik mande dan nenek moyang orang, masuk pula. Kata yang membuka aib perempuan, apalagi.
Sudah lama diskotik pindah ke rusuk rumah emak-emak. Lihatlah saat baralek. Akibat kemajuan teknologi musik, diskotik itu pindah masuk saku. Kapan ingin, tinggal buka link-nya. Maka muncullah anak-anak Minangkabau berjoget sampai pagi sambil adu perkakas.
Ini residu, bukan kemajuan. Tidak ada urusannya dengan peradaban. Nihil bobot.
Kegelisahan sebenarnya sudah muncul saat “Kutang Barendo” masuk lagu. Itu sejak puluhan tahun silam.
Kemudian dan kini, makin menjadi-jadi. Seberapa banyak pesta-pesta menampilkan orgen tunggal yang menggugah nafsu birahi. Memanggil-manggil “binatang buas” yang tidur. Apalagi diikuti gerakan eksotis. Melecehkan pemakai jilbab. Manafikan adat.
Seperti rambai dihempaskan, moral Minangkabau berserakan. Peristiwa demi peristiwa datang tanpa jeda. Ayah memperkosa anak. Ruang hiburan liar merembes ke rusuk rumah dan ke jalan. Gadis remaja memilih gantung diri. Narkoba menyusup hingga ke ruang-ruang yang selama ini dianggap suci. Ikatan sosial longgar, seperti seikat kayu yang diikat pada satu ujung saja. Bak sababan kayu bakabek ciek.
Semua ini terjadi di tengah banyaknya masjid dan di negeri yang orang terdidik ada di tiap kelok. Rumah tangga, yang seharusnya jadi benteng pertama, justru makin jauh dari sumbu.
Prostitusi kini dijajakan lewat aplikasi. Teknologi memindahkan banyak hal dari gedung ke genggaman. Kontrol sosial yang dulu jalan, kini tertinggal, kecuali untuk kasus viral. Negara, masyarakat, dan keluarga belum siap membaca perubahan ini. Kita gagap.
Kaum moralis sendiri kehilangan wibawa di mata orang banyak. Sebagian memilih diam. Sebagian lagi candu jabatan. Mestinya gubernur dan kepala daerah, ketua DPRD se-Sumbar, LKAAM, gelisah dan bersuara.
Dekadensi ini datang bertubi-tubi, seperti berabab ka talingo kabau. Tak didengar oleh yang semestinya bertindak. Tidak terdengar kemarahan yang cukup keras dari para pemimpin di Sumatera Barat. Seolah-olah semua lewat begitu saja.
Lalu kenapa hal-hal tabu sekarang dianggap lumrah? Karena di Minangkabau pemahaman agama dangkal, adat dangkal, moral bersama dangkal. Kenapa dangkal? Kita habis hari karena dengung ke dengung saja. Tidak pada kedalaman. Ini kalau disampaikan kepada yang ahli, kita pula yang disemburnya. Awak lo nyo ariak.
Pemimpin juga tidak menyandang hal-hal yang tidak ada APBD-nya. Tak ada anggaran. Memberantas dekadensi moral tidak bisa sekadar melarang, mesti diikuti edukasi yang benar. Maka, mestinya larang untuk yang sedang dan akan terjadi. Beri ajaran yang benar bagi generasi yang akan tumbuh.
Tugas siapa? Sansai kita dibuatnya, kan? Tidak. Gampang saja kalau mau. Rumah tangga, sekolah, dan lingkungan masyarakat adalah madrasah. Bersama-sama bisa, itu kalau mau. Kalau tidak, mari kita hanyut serantau.
Bersama kita bisa. Tapi begitu dilarang anak orang, bapak mandehnya marah pada kita. Maka, karena kita mengaku atau diakui sebagai negeri beradat, tentu dengan itu dijaga anak kemenakan kita. Itu artinya kembali ke mamak, ke pasukuan, ke nagari. Kembali pada ilmu, pada adab.
Inilah yang saya sebut tadi sudah seperti rambai dihampehan. Apa bisa diperbaiki? Bisalah, kenapa tidak. Untuk menolak tol, para pemangku bisa bersatu. Untuk moral, kenapa tidak. Cobalah…












