BeritaDaerahKota Padang

Anggota DPR -RI .DR. HJ. Lisda Hendrajoni : Empat Pilar Kebangsaan Bukan Slogan Masa Lalu

21
×

Anggota DPR -RI .DR. HJ. Lisda Hendrajoni : Empat Pilar Kebangsaan Bukan Slogan Masa Lalu

Sebarkan artikel ini

Padang, Relasipublik.–Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, DR. HJ . Lisda Hendrajoni, S. E. M. M. TR. menegaskan bahwa empat pilar kebangsaan bukan sekadar slogan masa lalu, melainkan fondasi krusial dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis.

Penegasan tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sekaligus silaturahmi menjelang bulan suci Ramadhan yang digelar di Premier Basko Hotel, Sabtu (7/2/2026).

Lisda menyampaikan bahwa derasnya arus teknologi digital dan keterbukaan informasi menuntut bangsa Indonesia memiliki pegangan nilai yang kokoh agar tidak kehilangan arah.

Menurutnya, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan landasan utama dalam menjaga keadilan sosial, persatuan, dan demokrasi di tengah tantangan global.

Ia menyoroti perkembangan teknologi yang diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, teknologi memberikan akses informasi yang luas dan cepat, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan serius, seperti maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial di ruang digital.

“Di sinilah empat pilar berperan sebagai filter kebangsaan. Kekuatan dan kemajuan hanya bisa dicapai jika kita berdiri di atas nilai-nilai tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lisda menekankan pentingnya literasi kebangsaan digital, khususnya bagi generasi muda yang merupakan pengguna media sosial terbesar.

Ia mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen konten positif serta pelopor literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

Dalam diskusi yang berlangsung, Lisda juga memberikan perhatian khusus terhadap peran keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan sekolah kebangsaan pertama bagi anak, di mana peran ibu sangat strategis dalam memberikan bimbingan serta pengawasan terhadap aktivitas digital anak.

“Pendidikan karakter melalui keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar ceramah. Nilai kejujuran dan toleransi harus dimulai dari rumah,” tuturnya.

Selain peran keluarga, Lisda mengajak dunia pendidikan, tokoh masyarakat, serta organisasi sosial untuk terus menciptakan ruang dialog yang sehat guna menjaga sinergitas dan persatuan.

Ia mengingatkan agar para tokoh mampu memberikan teladan dengan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik sesaat.

Menutup paparannya, Lisda menegaskan bahwa empat pilar kebangsaan merupakan jawaban untuk menghadapi masa depan. Prinsip “berbeda tetapi bersatu, kritis tetapi beretika, serta bebas tetapi bertanggung jawab” harus menjadi napas dalam menyampaikan pendapat, khususnya di ruang digital.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh berbagai organisasi profesi dan sosial, antara lain Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumatera Barat, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumatera Barat, Media Online Indonesia (MOI) Sumatera Barat, serta para aktivis perempuan. DW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *