Penulis: Saidul Aziz Mahendra
Mentawai mengajarkan saya bahwa perubahan iklim bukan sekedar isu global yang dibicarakan dalam seminar, laporan penelitian, atau pemberitaan media. Kesempatan yang diberikan oleh JEMARI Sakato kepada saya untuk belajar langsung bersama masyarakat di Mentawai menjadi pengalaman yang membuka banyak pandangan baru tentang bagaimana masyarakat bertahan di tengah perubahan iklim dan ancaman bencana. Ketika berada langsung di tengah masyarakat Mentawai, perubahan itu terlihat begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.
Dari ladang yang gagal panen, cuaca yang sulit diprediksi, ancaman banjir dan abrasi, hingga sulitnya mendapatkan air bersih saat musim kemarau, semuanya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Di sejumlah desa di Sipora, perubahan cuaca mulai memengaruhi banyak hal. Tanaman yang biasanya tumbuh baik kini lebih mudah rusak. Ketika hujan datang terlalu lama, jagung membusuk dan tanaman cabe berguguran.
Sebaliknya, ketika kemarau berkepanjangan datang, masyarakat kesulitan mendapatkan air, bahkan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Namun di tengah situasi itu, masyarakat tidak tinggal diam. Perlahan mereka mulai membangun cara bertahan dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar mereka. Pekarangan rumah yang sebelumnya kosong kini mulai dimanfaatkan untuk menanam berbagai kebutuhan pangan keluarga. Cabe, terong, kacang panjang, kangkung, jagung hingga singkong tumbuh di halaman-halaman rumah warga.
Di beberapa tempat, ibu-ibu rumah tangga mulai aktif mengelola kebun kecil mereka sendiri. Hasilnya memang belum dalam jumlah besar, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Pengeluaran rumah tangga yang sebelumnya banyak habis untuk membeli sayur dan kebutuhan dapur perlahan mulai berkurang karena sebagian kebutuhan sudah tersedia dari pekarangan sendiri.
Perubahan kecil seperti inilah yang kini mulai tumbuh di tengah masyarakat dampingan program GREAT bersama JEMARI Sakato. Melalui kegiatan sekolah lapang, masyarakat bukan hanya diajarkan cara menanam, tetapi juga memahami bagaimana menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana yang semakin sering terjadi.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian ramah lingkungan juga mulai meningkat. Banyak warga kini mencoba mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk organik dari limbah rumah tangga. Kulit bawang, kulit pisang, air cucian beras, hingga sisa sayuran dapur mulai diolah menjadi pupuk organik cair untuk tanaman mereka.
Bagi masyarakat, penggunaan pupuk organik bukan hanya lebih murah, tetapi juga dianggap lebih aman untuk kesehatan dan lingkungan. Mereka mulai memahami bahwa tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang lebih baik. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus justru dikhawatirkan merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Kesadaran seperti ini tumbuh bukan dalam waktu singkat. Banyak masyarakat yang sebelumnya menganggap bertani hanyalah soal menanam dan menunggu panen. Kini mereka mulai belajar memahami kondisi tanah, mengatur pola tanam, hingga memilih tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca.
Di tengah cuaca yang sulit diprediksi, masyarakat mulai mencari jenis tanaman yang lebih tahan terhadap iklim ekstrem. Ada yang memilih menanam terong karena dianggap lebih kuat menghadapi hama dan hujan. Ada pula yang mulai menanam kangkung dan kacang panjang karena lebih cepat panen dan mudah dirawat.
Yang menariknya, perubahan itu tidak hanya terjadi pada cara bertani masyarakat, tetapi juga pada cara mereka memandang risiko bencana. Jika sebelumnya banyak warga hanya menganggap bencana sebagai peristiwa yang datang begitu saja, kini mulai muncul kesadaran untuk lebih siap menghadapi situasi darurat.
Beberapa warga mulai memahami langkah-langkah dasar penyelamatan ketika gempa atau banjir terjadi. Ada yang mulai menyiapkan perlengkapan darurat sederhana di rumah, ada pula yang mulai memikirkan jalur evakuasi keluarga ketika bencana datang. Di daerah pesisir seperti Mentawai yang rentan terhadap gempa, abrasi dan banjir rob, pemahaman seperti ini menjadi sangat penting.
Kondisi geografis Mentawai yang terdiri dari gugusan pulau kecil memang membuat masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana. Abrasi pantai, banjir rob, badai dan gempa menjadi bagian dari kehidupan yang hampir selalu mereka hadapi setiap tahun. Dalam situasi seperti itu, kemampuan masyarakat untuk bertahan menjadi modal utama.
Di sejumlah desa, masyarakat juga mulai membentuk kelompok siaga dan forum inklusi desa untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menariknya, kelompok-kelompok ini tidak hanya melibatkan tokoh masyarakat atau aparat desa, tetapi juga mulai memberi ruang bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Kesadaran tentang pentingnya pelibatan kelompok rentan menjadi salah satu perubahan sosial yang cukup terasa. Masyarakat mulai memahami bahwa penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil dan anak-anak harus menjadi prioritas dalam situasi bencana. Bahkan dalam kegiatan sekolah lapang dan pelatihan masyarakat, teman-teman disabilitas mulai aktif dilibatkan bersama warga lainnya.
Selain persoalan pangan dan kebencanaan, kebutuhan air bersih juga menjadi tantangan besar bagi sebagian masyarakat di Mentawai. Saat musim kemarau datang, beberapa dusun mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih. Warga harus berjalan jauh atau mengangkut air secara manual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyiram tanaman mereka.
Karena itu, pembangunan fasilitas air bersih menjadi harapan besar masyarakat. Kehadiran program pembangunan sarana air bersih memberi dampak nyata bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses air. Bagi masyarakat, air bukan hanya soal kebutuhan rumah tangga, tetapi juga penopang keberlangsungan pertanian kecil yang mereka bangun.
Di balik semua proses itu, satu hal yang paling terlihat adalah kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Mereka belajar bersama, bekerja bersama dan saling berbagi pengalaman. Pertemuan antarpetani dari desa yang berbeda menjadi ruang belajar yang sangat penting. Dari sana masyarakat saling bertukar pengetahuan tentang cara menanam, penggunaan pupuk organik hingga cara menghadapi perubahan cuaca.
Apa yang tumbuh di Mentawai hari ini mungkin terlihat sederhana. Hanya kebun kecil di samping rumah, pupuk dari limbah dapur, atau gotong royong menyiram tanaman saat kemarau. Namun dari hal-hal sederhana itulah masyarakat sedang membangun ketahanan mereka sendiri.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pengalaman masyarakat Mentawai menunjukkan bahwa ketahanan tidak selalu lahir dari program besar dan bantuan mewah. Ketahanan justru tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk mulai berubah, memanfaatkan apa yang ada, dan menjaga kehidupan mereka secara bersama-sama.
Mentawai hari ini sedang mengajarkan satu hal penting: ketika masyarakat diberi ruang belajar dan didampingi dengan baik, mereka mampu menemukan cara bertahan bahkan dari pekarangan kecil di depan rumah mereka sendiri.












