sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Di tengah arus perubahan sosial yang kian cepat, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menegaskan bahwa penguatan adat dan ketahanan keluarga tetap menjadi fondasi pembangunan daerah. Hal itu tercermin dalam pertemuan bulanan Bundo Kanduang se-Kabupaten Tanah Datar di Gedung LKAAM Tanah Datar, Kamis (12/2).
Pertemuan yang dihadiri utusan Bundo Kanduang dari seluruh nagari dan kecamatan tersebut menjadi ruang konsolidasi nilai, bukan sekadar agenda rutin. Pemerintah daerah hadir melalui Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Tanah Datar, Hendra Setiawan, bersama jajaran terkait, menegaskan komitmen sinergi dalam pembinaan keluarga berbasis nagari.
Penasehat Bundo Kanduang, Ny. Lise Eka Putra, dalam arahannya menekankan pentingnya menjaga nilai adat Minangkabau sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai limpapeh rumah nan gadang—penyangga utama harmoni keluarga dan masyarakat.
Ia mengapresiasi program “Bundo Kanduang Masuak Sekolah” yang dinilai strategis dalam menanamkan pendidikan karakter dan nilai adat sejak dini. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup lewat seremoni, tetapi harus hidup dalam keseharian generasi muda.
“Pertemuan ini harus menjadi ruang berbagi pengalaman dan evaluasi program. Inovasi sosial dan pendidikan perlu terus dikembangkan agar adat tetap relevan dengan zaman,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan literasi adat, Ny. Lise menyerahkan secara simbolis buku tentang adat Minangkabau kepada Ketua Bundo Kanduang Tanah Datar, Ahdi Rafni S.Pd.
Bupati Tanah Datar yang diwakili oleh Kepala Dinas Sosial PPPA Hendra Setiawan menegaskan bahwa peran Bundo Kanduang sangat strategis dalam pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan sosial. Pemerintah daerah, katanya, siap bersinergi agar program berbasis keluarga di nagari berjalan lebih terarah dan berdampak nyata.
“Ketahanan sosial dimulai dari keluarga. Peran perempuan adat di nagari adalah kunci menciptakan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban,” tegasnya.
Ketua LKAAM Tanah Datar, Aresno Dt. Andomo, mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan berpegang pada falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Menurutnya, kolaborasi antara Bundo Kanduang, niniak mamak, dan pemerintah menjadi kekuatan utama menjaga kelestarian adat di Tanah Datar.
Pertemuan juga diisi tausiyah Ustaz Rizky dari Nagari Lubuk Jantan yang mengajak peserta menyambut Ramadan dengan hati bersih serta mempererat silaturahmi. Ia menekankan bahwa peran perempuan dalam menanamkan nilai akhlak dan agama menjadi pondasi generasi masa depan.
Di balik suasana kekeluargaan yang terbangun, pertemuan ini menegaskan satu pesan penting: pembangunan Tanah Datar tidak hanya berbicara infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga penguatan identitas, karakter, dan ketahanan keluarga sebagai akar peradaban nagari(d13)












