BeritaKota Padang

Di Tengah Sorotan Mahasiswa, Andre Rosiade Buka Suara soal MBG, KIP hingga Jalan Tol Sumbar

18
×

Di Tengah Sorotan Mahasiswa, Andre Rosiade Buka Suara soal MBG, KIP hingga Jalan Tol Sumbar

Sebarkan artikel ini

Padang, relasipublik – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menghadiri langsung diskusi publik yang digelar BEM KM Universitas Andalas (Unand), Kamis (9/4/2026). Forum yang mengusung tema “Menguliti Narasi Keberhasilan Pemerintah Pusat di Tengah Krisis Daerah” itu menjadi ruang dialog terbuka antara mahasiswa dan pembuat kebijakan.

Kehadiran Andre menarik perhatian karena ia datang memenuhi undangan mahasiswa di tengah menguatnya kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat.

Andre menegaskan kedatangannya ke kampus bukan sekadar memenuhi agenda diskusi, tetapi juga sebagai bentuk komitmennya untuk mendengar langsung aspirasi mahasiswa.

“Saya dulu juga Presiden Mahasiswa. Saya tahu rasanya berjuang di jalan. Tapi kritiklah dengan data dan fakta, jangan hanya dengan narasi tanpa dasar. Diplomasi dan data itu jauh lebih kuat daripada sekadar teriakan,” kata Andre, yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang (IKM).

Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan kampus karena pernah aktif dalam gerakan mahasiswa.

Sejak pagi, Andre juga meninjau sejumlah proyek pembangunan yang tengah berjalan di kawasan Unand. Salah satunya pembangunan gedung serbaguna yang didukung dana CSR Pertamina senilai hampir Rp9 miliar dan ditargetkan rampung pada 21 Juni 2026.

Selain itu, ia menyampaikan rencana pembangunan jogging track di area lapangan dekat kantor rektor.

Andre juga menyoroti persoalan Kartu Indonesia Pintar (KIP) mahasiswa yang nonaktif saat memasuki perguruan tinggi. Menurutnya, langkah cepat telah dilakukan untuk mencarikan solusi.

“Saya sudah telepon Menteri Pendidikan di depan Pak Rektor. Insyaallah tanggal 26 atau 27 nanti kita bawa perwakilan Unand bertemu langsung untuk mencarikan solusi,” ujarnya.

Soroti Program MBG dan Infrastruktur

Menanggapi kritik mahasiswa terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Andre menegaskan program tersebut menjadi langkah penting dalam menekan angka stunting di Sumatera Barat yang masih berada di atas rata-rata nasional.

Menurutnya, program itu tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah.

“Perputaran uang dari MBG di Sumatera Barat mencapai sekitar Rp10 sampai Rp12 triliun. Sekitar 86 persen dinikmati masyarakat sekitar sekolah dan pelaku UMKM,” kata Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR RI itu.

Di sektor infrastruktur, Andre menjelaskan pemerintah terus memperkuat pembangunan di Sumatera Barat, termasuk rencana pembangunan jalan tol Sicincin–Bukittinggi yang ditargetkan mulai Oktober 2026.

Ia juga menyebut upaya pengaktifan kembali jalur kereta api yang selama ini belum optimal akibat keterbatasan standar rel lama.

Selain itu, Andre menyinggung percepatan pembangunan 40 unit hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Batang Anai, Padang Pariaman.

“Kita tidak boleh melihat ini sebagai urusan politik. Ini soal kemanusiaan yang harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Andre mengajak mahasiswa Unand menjadi mitra kritis pemerintah dalam mengawal pembangunan.

“Kampus adalah tempat intelektual. Kritiklah dengan data dan fakta. Kami tidak antikritik,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar kritik tetap disampaikan secara beradab dan etis.

Mahasiswa Minta Evaluasi Implementasi

Sementara itu, Presiden Mahasiswa KM Unand, Shabbarin Syakur, menegaskan kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial dan disusun berdasarkan kajian lapangan.

“Suara yang kami bawa di BEM Unand ini bukan suara hasil karangan di atas meja. Kami punya tim kajian yang turun langsung mendengar keluhan di bawah,” kata Syakur.

Menurutnya, mahasiswa tidak menolak program MBG, namun menilai implementasinya masih perlu evaluasi agar sesuai dengan kebutuhan daerah.

“Kami sepakat stunting harus ditekan. Namun implementasinya masih terkesan terburu-buru dan top-down. Ini yang kami sebut perlu evaluasi total,” ujarnya.

Ia juga meminta transparansi rantai pasok program MBG agar benar-benar memberi manfaat bagi petani dan pelaku usaha lokal di Sumatera Barat.

Selain itu, pihak mahasiswa menegaskan akan mengawal komitmen Andre terkait penyelesaian persoalan KIP mahasiswa yang nonaktif.

Dosen Apresiasi Ruang Dialog

Panelis diskusi, dosen FISIP Unand Dr. Indah Adi Putri, menilai MBG merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Namun, ia menekankan pentingnya pengawasan standar higienitas makanan dan transparansi penyaluran bantuan sosial.

Senada, dosen FISIP Unand Dr. Malse Yulivestra menyoroti pentingnya keberlanjutan program pemerintah dan keterlibatan petani serta peternak lokal dalam rantai pasok MBG.

Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand Dr. Hary Efendi Iskandar mengapresiasi kehadiran Andre yang memenuhi undangan mahasiswa.

“Diundang sama adik-adik karena jiwa aktivisnya datang ke sini. Sebenarnya beliau bisa saja tidak merespons, tapi justru hadir berdiskusi bersama mahasiswa. Ini perlu kita apresiasi,” kata Hary.

Menurutnya, dinamika kritik mahasiswa merupakan bagian wajar dari tradisi intelektual kampus dan ruang dialog seperti ini perlu terus dijaga. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *