sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Duka yang menyelimuti keluarga Wili di Sawah Parik, Sungayang Selasa (10/2), tak hanya dirasakan oleh keluarga besar almarhum. Kabar wafatnya sang ayah juga menggugah kepedulian para Alumni SMP Negeri 1 Sungayang angkatan 95 yang datang melayat, menghadirkan pelukan solidaritas di tengah suasana kehilangan.
Pada Rabu malam (11/2), para alumni hadir secara berombongan ke rumah duka. Meski disibukkan oleh aktivitas dan tanggung jawab masing-masing, mereka menyempatkan waktu untuk bersama-sama memberikan penghormatan terakhir dan menguatkan sahabatnya yang tengah berduka.
Kehadiran para alumni menjadi penanda bahwa ikatan yang terbangun di masa remaja tidak lekang oleh waktu. Kebersamaan yang dulu terjalin di ruang-ruang kelas kini menemukan maknanya dalam empati dan kepedulian nyata, berdiri bersama saat salah satu dari mereka diuji oleh kehilangan.
“Ini bukan hanya soal teman sekolah. Ini tentang keluarga yang dipertemukan oleh waktu,” ujar salah seorang alumni dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Wili, dukungan tersebut menjadi penguat di tengah duka mendalam. Ia mengaku terharu atas perhatian dan kebersamaan sahabat-sahabat lamanya.
“Kehadiran mereka sangat berarti bagi saya dan keluarga. Terima kasih sudah datang dan mendoakan almarhum ayah,” ucapnya lirih.
Takziah yang dilakukan para Alumni SMPN 1 Sungayang ini menjadi cermin nilai gotong royong dan empati yang masih kuat hidup di tengah masyarakat Sungayang. Di tengah derasnya arus kesibukan, solidaritas tetap menemukan jalannya.
Duka memang tak bisa dihapus, namun dengan kebersamaan, beban terasa lebih ringan. Di Sawah Parik hari itu, persahabatan membuktikan dirinya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan jembatan penguat di saat paling rapuh(d13)












