Opini

Kerisauan Dony Oskaria

18
×

Kerisauan Dony Oskaria

Sebarkan artikel ini

Oleh: Two Efly
Wartawan Ekonomi

Pertengahan Februari, salah seorang tokoh masyarakat Minang yang juga Ketua BP BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan keprihatinannya.
Sebagai anak rantau, ia cemas melihat kondisi ranah. Ekonomi yang kian terpuruk menjadi perhatian utamanya saat berkunjung ke kampung halaman.

Sebagai pengusaha, ia menyarankan Sumatera Barat segera berbenah. Pertumbuhan ekonomi yang rendah adalah sinyal bahaya. Kondisi ini harus segera disikapi agar daerah tidak semakin terpuruk.

Sumatera Barat harus bangkit. Industrialisasi berbasis potensi lokal perlu dihadirkan. Salah satu sektor potensial adalah pariwisata. Sumatera Barat perlu mencontoh Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali. Dua daerah tersebut mampu tumbuh melalui sektor pariwisata.

Kerisauan Dony Oskaria menjadi pemantik. Sejumlah tokoh mulai tersentak. Beberapa pihak ikut gelisah.

Saya termasuk yang risau. Istilah “labirin 4 persen” sudah berulang kali saya sampaikan. Dalam berbagai tulisan dan forum diskusi, hal itu terus saya tekankan. Namun, hasilnya belum berubah. Dari kuartal ke kuartal, kondisi nyaris stagnan.

Awal Tahun yang Sulit

Tahun baru biasanya membawa harapan baru. Namun, realitas belum sejalan. Tahun yang diharapkan menjadi momentum kebangkitan pascabencana dan keterpurukan ekonomi tampaknya masih berat.

Masalah utamanya adalah konektivitas. Akses manusia dan barang masih tersekat. Jalur Lembah Anai masih buka-tutup. Jalur alternatif Sicincin–Malalak juga belum sepenuhnya lancar. Perputaran ekonomi pun tersendat.

Lembah Anai adalah nadi utama ekonomi Sumatera Barat. Jalur ini menjadi penghubung ibu kota provinsi dengan kabupaten dan kota penyangga. Jalur ini juga menghubungkan Padang dan Pekanbaru sebagai pasar utama.

Selasa, 17 Februari 2026, saya kembali melintasi kawasan tersebut. Itu adalah kali kedua saya melewati jalur Padang–Bukittinggi pascabencana hidrometeorologi.

Proses pemulihan memang berjalan. Namun, estimasi penyelesaian dalam 90 hari tampaknya akan molor. Titik bencana tidak berkurang. Longsoran susulan justru muncul setelah hujan deras.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum kebangkitan makroekonomi. Lonjakan konsumsi saat Ramadhan biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi. Produksi pangan dan sandang pun meningkat.

Sayangnya, momentum ini terancam tidak optimal. Hambatan transportasi masih menjadi kendala. Jalur Sitinjau Lauik tidak mungkin menjadi satu-satunya andalan. Kemacetan hampir pasti terjadi.

Berpeluang Kontraksi

Jika pada Q4/2025 Sumatera Barat tumbuh minus secara quarter to quarter dan year on year, maka Q1/2026 berpeluang kembali terkontraksi secara year on year.

Mengapa? Sulit bagi Sumatera Barat menyamai pertumbuhan Q1/2025 sebesar 4,66 persen. Angka tersebut ditopang kinerja Q4 2024 yang tumbuh 4,04 persen.

Artinya, Q1/2025 dimulai dari basis yang relatif kuat. Pertumbuhan bergerak dari 4,04 persen menjadi 4,66 persen.

Bandingkan dengan kondisi 2026. Pada Q4/2025, pertumbuhan hanya 1,69 persen. Artinya, awal 2026 dimulai dari basis yang rendah. Jaraknya sangat jauh untuk menyamai 4,66 persen.

Dalam 45 hari pertama Q1/2026, momentum sudah melemah. Hingga pertengahan Februari, ekonomi masih melambat. Konektivitas manusia dan barang belum pulih. Pasokan sembako dari dan menuju Kota Padang masih terhambat. Kondisi ini pasti berdampak negatif pada pertumbuhan.

Walau bukan data final, separuh periode Q1/2026 cukup menjadi dasar analisis. Perputaran ekonomi berat. Belanja pemerintah belum maksimal. Belanja modal masih minim.
Saya memperkirakan pertumbuhan Q1/2026 tidak akan melampaui 3 persen. Jika itu terjadi, maka secara year on year akan terjadi kontraksi, meski secara quarter to quarter tetap positif.

Fiskal yang Masih Abu-abu

Penggerak utama ekonomi Sumatera Barat adalah belanja pemerintah. Namun, belanja daerah pada awal 2026 tidak sebaik awal 2025.
Siklus belanja memang cenderung rendah di awal tahun. Transfer keuangan daerah belum sepenuhnya turun. Belanja awal tahun bertumpu pada SiLPA tahun sebelumnya.

Belanja modal dan jasa masih minim. Pemerintah baru menjalankan belanja rutin seperti gaji dan operasional. Dampaknya terhadap makroekonomi sangat terbatas.

Belanja rehabilitasi dan rekonstruksi juga belum berjalan optimal. Bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur fisik belum sepenuhnya digulirkan.

Tekanan fiskal menjadi penyebab utama. Taksiran kerugian akibat bencana hidrometeorologi mencapai sekitar Rp33 triliun. Penanganannya harus dilakukan secara multiyears.

Bencana pun belum sepenuhnya usai. Sejumlah daerah masih terdampak. Longsor dan banjir susulan terus terjadi.

Rasa waswas juga belum hilang. Masyarakat di daerah hiliran sungai masih cemas. Setiap hujan deras, debit air langsung meningkat. Kondisi ini ikut menekan aktivitas ekonomi.

Berharap Konsumsi

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sangat bergantung pada konsumsi. Hambatan konektivitas memengaruhi ketersediaan barang dan jasa.

Harapan tetap ada. Idul Fitri diharapkan menjadi puncak konsumsi. Arus mudik perantau diyakini akan meningkatkan belanja masyarakat.

Secara peluang, Idul Fitri adalah momentum emas. Namun, kelancaran akses jalan menjadi kunci. Jika jalur utama masih buka-tutup dan belum beroperasi 24 jam, peluang ini bisa terlewat.

Perantau akan berpikir ulang untuk mudik. Mereka enggan pulang jika transportasi masih terkendala.

Harapannya, perbaikan jalur Lembah Anai dan Malalak dapat tuntas menjelang Idul Fitri. Setidaknya H-7, akses sudah terbuka 24 jam. Tanpa itu, Sumatera Barat kembali berisiko kehilangan momentum kebangkitan ekonomi di awal tahun.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *