Berita UtamaKota Padang

Ketika AI Masuk Nagari: Cara Baru UMKM Sumbar Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

63
×

Ketika AI Masuk Nagari: Cara Baru UMKM Sumbar Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Sebarkan artikel ini
Foto : Supriadi memberikan materi saat menjadi narasumber (dok istimewa A3)

Padang, Relasipublik.com – Di sebuah ruangan hotel di Kota Padang, puluhan pelaku UMKM dari Kabupaten Solok tampak serius menatap layar ponsel mereka. Ada yang sibuk mencoba membuat desain promosi. Ada yang tertawa kecil melihat foto produknya berubah menjadi lebih menarik hanya dalam beberapa detik.

Bukan karena mereka mendadak menjadi desainer profesional. Tetapi karena untuk pertama kalinya mereka berkenalan langsung dengan Artificial Intelligence (AI).

Di tengah derasnya perubahan dunia digital, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Koperasi dan UKM mencoba membuka jalan baru bagi pelaku usaha kecil lewat kegiatan Pemberdayaan Usaha Kecil yang Dilakukan Melalui Pendataan, Kemitraan, Kemudahan Perizinan, Penguatan Kelembagaan dan Koordinasi dengan Pemangku Kepentingan pada DPA-APBD Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2026 Bidang Pemberdayaan Usaha Kecil yang berlangsung di Hotel Axana Padang, Minggu (23-24/5/2026).

Namun di balik panjangnya nama kegiatan itu, tersimpan satu pesan besar UMKM harus mulai berdamai dengan teknologi. Dan teknologi itu kini bernama AI.

Dunia Sudah Berubah, UMKM Tidak Bisa Lagi Bertahan dengan Cara Lama

Dulu, usaha kecil cukup bersaing dengan toko sebelah Hari ini lawannya jauh lebih besar, persaingan kini pindah ke layar ponsel. Produk dari kota lain, bahkan luar negeri, bisa muncul di tangan konsumen hanya dalam hitungan detik lewat TikTok, Instagram, marketplace, dan live streaming.

Di tengah realitas itulah, nama Supri Ardi, S.Kom., M.I.Kom menjadi perhatian peserta seminar. Penggiat media sosial berbasis AI asal Sumatera Barat itu hadir membawa tema yang terasa sangat relevan:

“Literasi AI untuk Pengembangan UMKM di Era Digital.”

Kalimat pembuka yang ia sampaikan langsung membuat ruangan hening. “Hari ini persaingan UMKM bukan lagi soal siapa yang punya modal paling besar, tetapi siapa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi.”

Bagi sebagian peserta, kalimat itu terasa menampar kenyataan. Sebab banyak pelaku usaha kecil mulai menyadari bahwa produk bagus saja tidak lagi cukup. Di era digital, orang membeli karena tertarik pada tampilan, cerita, promosi, dan cara sebuah produk hadir di media sosial.

AI yang Selama Ini Dianggap Rumit, Ternyata Bisa Membantu Pedagang Kecil

Selama ini banyak orang menganggap AI hanya milik perusahaan besar atau orang-orang teknologi. Padahal kenyataannya, AI kini sudah masuk ke kehidupan sehari-hari. Dan pelaku UMKM mulai merasakan dampaknya.

Dalam sesi pelatihan, Supri Ardi memperlihatkan bagaimana AI mampu membantu pekerjaan yang sebelumnya dianggap sulit dan mahal. Mulai dari membuat desain promosi otomatis, menulis caption pemasaran, mempercantik foto produk, mengedit video pendek, hingga membantu pelayanan pelanggan selama 24 jam.

Semua bisa dilakukan hanya lewat telepon genggam. “AI bukan menggantikan manusia, tetapi membantu manusia bekerja lebih cerdas,” ujar Supri.

Kalimat itu menjadi titik penting dalam pelatihan tersebut. Karena ketakutan terbesar banyak orang terhadap AI adalah kehilangan pekerjaan. Namun dalam konteks UMKM, AI justru hadir sebagai alat bantu agar usaha kecil bisa naik kelas lebih cepat.

Jika dulu membuat desain promosi harus membayar jasa profesional, hari ini banyak hal bisa dikerjakan sendiri hanya dalam hitungan menit.

Persoalan Terbesar UMKM Bukan Modal, Tapi Takut Belajar

Di tengah sesi diskusi, satu kenyataan lain mulai terlihat. Masalah terbesar UMKM hari ini ternyata bukan semata modal usaha.

Tetapi keberanian untuk berubah. Banyak usaha kecil memiliki produk berkualitas, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, fesyen, hingga hasil pertanian. Namun mereka kalah bersaing karena lemah dalam promosi dan branding digital.

Padahal pasar sudah berubah total. Konsumen hari ini mencari produk lewat media sosial, mereka melihat video pendek sebelum membeli. Mereka tertarik pada visual sebelum membaca kualitas barang dan di sinilah banyak UMKM mulai tertinggal.

Menurut Supri Ardi, usaha kecil yang tidak segera hadir di dunia digital perlahan akan kehilangan pasar. “Kalau usaha kita tidak muncul di media sosial, maka kita sedang membiarkan orang lain mengambil pasar kita.”

Pernyataan itu terasa sederhana, tetapi menggambarkan perubahan besar yang sedang terjadi. Hari ini media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan. Ia sudah berubah menjadi pasar terbesar di dunia.

Ketika AI Turun Sampai ke Akar Rumput

Pelatihan ini sebenarnya memperlihatkan satu perubahan penting di Sumatera Barat, jika dulu pembahasan AI hanya terdengar di seminar kampus atau perusahaan teknologi besar, kini teknologi itu mulai masuk ke ruang-ruang UMKM. Artinya, transformasi digital tidak lagi berhenti di kota besar. Ia mulai turun sampai ke akar rumput. Dan ini menjadi pertanda bahwa ekonomi masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat kecil memanfaatkan teknologi.

Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat tinggi. Sebagian langsung mencoba membuat flyer otomatis. Sebagian lain belajar membuat caption promosi menggunakan AI. Ada pula yang baru pertama kali memahami bahwa foto produk sederhana bisa diubah menjadi tampilan profesional hanya melalui aplikasi berbasis kecerdasan buatan.

Salah seorang peserta bernama Reni mengaku baru menyadari bahwa teknologi ternyata tidak serumit yang dibayangkan. “Sekarang kami sudah bisa membuat foto, flyer, dan caption menarik hanya dalam hitungan menit,” ujarnya antusias.

Bagi pelaku usaha kecil di daerah, pengalaman seperti itu terasa seperti membuka pintu baru.

Sumbar Sedang Menyiapkan Generasi UMKM Digital

Apa yang dilakukan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat sebenarnya lebih dari sekadar pelatihan biasa. Ini adalah bagian dari upaya menyiapkan generasi UMKM baru yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman, karena dunia bergerak terlalu cepat, teknologi berubah setiap hari. Pola konsumsi masyarakat berubah setiap saat dan AI perlahan mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia UMKM yang tetap memakai cara lama berisiko tertinggal.

Sementara mereka yang mau belajar memiliki peluang tumbuh jauh lebih besar. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, langkah menghadirkan literasi AI bagi pelaku usaha kecil menjadi keputusan yang terasa sangat strategis, ini bukan lagi soal mengikuti tren teknologi tetapi tentang menyiapkan masa depan ekonomi rakyat.

Dari Sumatera Barat untuk Masa Depan Indonesia Digital

Kehadiran sosok muda seperti Supri Ardi juga memperlihatkan satu hal penting Transformasi digital tidak harus lahir dari Jakarta atau kota besar lainnya, anak muda daerah pun bisa menjadi motor perubahan.

Dengan bahasa sederhana dan pendekatan yang dekat dengan masyarakat, teknologi yang sebelumnya terasa rumit kini mulai dipahami pelaku usaha kecil. Dan mungkin, inilah wajah baru pembangunan ekonomi Indonesia ke depan bukan hanya tentang gedung megah dan proyek besar.

Tetapi tentang bagaimana masyarakat kecil diberi kemampuan untuk bertahan, tumbuh, dan bersaing melalui teknologi, karena pada akhirnya, kemajuan suatu daerah bukan ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang dimiliki. Tetapi oleh seberapa cepat manusianya mampu belajar menghadapi perubahan zaman. (Ardi/A3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *