Opini

Ketika Derita Jadi Latar Selfie

69
×

Ketika Derita Jadi Latar Selfie

Sebarkan artikel ini

Oleh: Domi Kani (ibu rumah tangga dan Wartawan bertugas di Tanah Datar )

Ada pemandangan yang lebih menyakitkan daripada rumah yang hancur dan tanah yang terbelah:
manusia yang kehilangan rasa empatinya.

Di tengah jeritan keluarga yang mencari anggota keluarganya, di antara relawan yang berlari membawa kantong logistik, dan di bawah bau lumpur bercampur air mata—hadir sekelompok orang yang datang bukan untuk membantu, tapi untuk mengabadikan derita orang lain demi konten.

Mereka berdiri di atas puing-puing seolah itu panggung.
Mereka menyalakan kamera, tersenyum tipis, lalu mengunggahnya dengan caption palsu: “Pray for…”
Sementara di belakang mereka, seseorang sedang menggali tanah dengan tangan goyah, berharap menemukan orang yang ia sayangi.

Ironi macam apa ini?

Mereka datang sebagai “wisatawan bencana”, bukan sebagai manusia.
Langkah mereka membuat sempit jalur evakuasi.
Foto-foto mereka menghalangi tim penyelamat yang berpacu dengan waktu.
Keinginan mereka untuk viral membuat relawan tersendat, ambulans terhambat, dan keluarga korban harus menelan kenyataan bahwa ada orang yang lebih sibuk mengejar like daripada memikirkan nyawa.

Di mana hati nuraninya?

Derita bukan objek wisata.
Air mata bukan latar belakang konten.
Bencana bukan panggung untuk menaikkan follower.

Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah beban.
Jika tidak bisa mengulurkan tangan, jangan justru menginjak perasaan.

Karena pada akhirnya, dunia ini bukan kekurangan relawan—
dunia ini kekurangan manusia yang benar-benar punya hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *