Berita UtamaOpiniTERBARU

Korupsi Bukan Bisnis: Menghancurkan Keadilan dan Merampas Kesejahteraan Bangsa

32
×

Korupsi Bukan Bisnis: Menghancurkan Keadilan dan Merampas Kesejahteraan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Jessira Maharani,  Jurusan: Manajemen Universitas Baiturrahmah

Pembukaan
Di banyak negara berkembang, masalah korupsi begitu parah – Indonesia ikut terkena dampaknya. Tidak cuma soal langgar aturan, tindakan itu turut menggerogoti fondasi hidup bersama sebagai bangsa. Ada anehnya, perilaku curang ini kerap disebut biasa saja, seolah jadi dagangan rahasia yang memberi untung untuk segelintir pihak. Padahal urusan begini tidak ada hubungan dengan dunia usaha yang legal. Bukan transaksi bisnis, melainkan aksi kejahatan rapi, terencana, serta menciptakan efek buruk pada kesetaraan dan nasib warga banyak.

Pandangan bahwa korupsi itu seperti dunia usaha – ini soal salah arah berpikir, risiko tinggi. Melihatnya sebagai hal biasa justru membuat pelanggaran makin dianggap lumrah, sementara sikap longgar terhadap kuasa yang disalahgunakan ikut tumbuh subur. Begitu korupsi masuk akal bagi banyak orang, rusaknya nilai lama-lama jadi hal yang nyaris pasti.

Isi / Argumentasi
Korupsi Merusak Rasa Adil
Kehidupan bersama tak bisa tegak tanpa rasa adil di dalamnya. Hadirnya negara seharusnya menjamin tiap orang dapat perlakuan yang serupa, terlepas dari latar belakang mereka. Tapi praktik suap mengacaukan semua itu. Di lingkungan seperti ini, aturan hanya keras pada rakyat kecil sementara lembut bagi kalangan atas. Layanan untuk masyarakat bukan ditentukan oleh siapa yang paling memerlukan, melainkan siapa yang punya uang lebih atau kenalan dekat dengan petugas. Pernah lihat bagaimana uang haram bisa buka pintu? Itulah wujud korupsi saat seseorang beli proyek, posisi, atau izin birokrasi. Yang tak punya jaringan maupun dana tinggal di tepian. Sebaliknya, pelaku licik malah maju ke depan. Dampaknya, jurang antar kelompok melebar perlahan. Rakyat mulai ragu pada institusi yang seharusnya adil.

Korupsi Mengambil Kesejahteraan Rakyat
Uang hasil korupsi itu milik orang-orang biasa, bukan angka di laporan. Harusnya duit itu dipakai bikin sekolah lebih layak, jalan lebih bagus, rumah sakit bisa berfungsi baik, juga membantu usaha kecil tumbuh. Saat uang negara dibawa kabur, yang merasa rugi paling dalam adalah warga kampung dan desa. Proyek jalan atau sekolah bisa rusak cepat gara-gara uangnya dikorupsi. Bantuan untuk warga yang butuh sering salah alamat, sampai ke tempat yang bukan seharusnya. Pelayanan rumah sakit ataupun kantor pemerintahan ikut menurun rasanya. Orang miskin merasa lebih terjepit hidupnya, seperti di tempat tanpa jalan keluar. Uang negara yang mestinya bikin ekonomi tumbuh malah menguap entah kemana. Pertumbuhan jadi mandek karena dana tersebar tanpa arah pasti.Korupsi

Bukan Bisnis yang Menambah Nilai
Usaha yang baik ingin hasilkan sesuatu berguna, bikin pekerjaan lebih efisien, sementara membawa dampak positif untuk banyak orang. Berbeda dengan korupsi – ia hanya tinggalkan kerusakan pada negara serta beban berat bagi warga biasa. Tidak ada karya nyata di balik praktik ini, melainkan pengambilan untung lewat cara haram tanpa menambah nilai apa pun.Bisnis bisa memperkuat perekonomian, tetapi korupsi menghancurkannya perlahan. Peluang baru lahir dari usaha yang sehat, sementara korupsi menutup pintu bagi banyak orang. Tidak masuk akal bila keduanya dianggap sama, karena satu membangun dan lainnya hanya merongrong dari dalam.

Korupsi Mengganggu Proses Pembangunan di Indonesia
Tidak bisa dipungkiri, sebuah negara hanya maju kalau aturannya jelas serta ditegakkan dengan adil. Saat korupsi merajalela, pembangunan sering macet di tengah jalan. Uang negara menguap entah kemana. Proyek terbengkalai tersebar di mana-mana. Yang lebih parah, keputusan pemerintah malah menguntungkan segelintir orang, bukan rakyat banyak. Karena korupsi merajalela, investor cenderung menjauh dari suatu negara. Akibatnya, kesempatan ekonomi menyusut sekaligus mencoreng reputasi internasional. Lama-kelamaan, kondisi seperti ini bikin negeri ketinggalan dan tak mampu berdiri setara dengan negara lain.

Korupsi Mengikis Nilai Luhur Masyarakat
Masyarakat sering kali diam saat melihat korupsi, padahal itu merusak hati nurani bersama. Dari situ tumbuh anggapan bahwa menang secara instan lebih penting daripada prosesnya perlahan. Banyak anak muda mulai menghargai koneksi dibanding kemampuan diri sendiri. Kebohongan kecil lalu dianggap lumrah bila membawa hasil besar. Di tengah semua ini, rasa malu atas ketidakjujuran justru semakin memudar. Mulai dari sini: orang baik malah dibuang begitu saja saat korupsi merajalela. Kalau begini terus, rusaknya nilai dalam masyarakat tambah parah tanpa bisa dicegah.

Dampak Sosial Korupsi Sangat Luas
Ada yang jadi lebih kaya gara-gara bisa masuk ke lingkaran kuasa. Rakyat biasa malah tenggelam dalam kesulitan yang tak kunjung usai. Kemudian amarah tumbuh pelan di antara mereka yang tersingkir. Cinta tanah air mulai luntur, digantikan curiga satu sama lain. Persatuan pun retak perlahan. Karena korupsi, pelayanan untuk warga jadi buruk. Akibatnya, orang tidak bisa menikmati pendidikan bagus atau perawatan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan. Tindakan semacam ini ibarat menusuk hati rakyat dari belakang.

Normalisasi Korupsi Ancaman Terbesar
Lain kali ada yang bilang korupsi cuma masalah kecil, ingatlah soal cara pandang ikut menentukan nasib bersama. Mungkin awalnya kelihatan remeh, lalu perlahan dianggap wajar oleh banyak orang. Sejak saat itulah usaha membersihkannya jadi tersendat-sendat. Bila seseorang meyakini semua aturan sudah rusak sejak dulu, ia cenderung diam saja tanpa protes.
Ternyata, langkah besar justru lahir saat seseorang berani bilang tidak pada hal-hal kecil. Begitu masing-masing orang memilih jujur, lama-kelamaan cara curang tak lagi dianggap biasa.

Penutup
Karena korupsi bukan soal dagang, melainkan tindakan keji yang mengikis rasa adil serta mengambil hak rakyat atas sejahtera. Akibat dari hal ini terasa tidak cuma sekarang, tapi juga menekan masa depan anak cucu nanti. Negara jadi goyah akibat ulah itu, nilai-nilai luhur masyarakat perlahan hancur, sementara jurang antar golongan semakin melebar. Lihat saja bagaimana rakyat bisa mulai bicara saat melihat ketidakadilan. Hukuman tak akan cukup jika hati masih buta terhadap nilai benar salah. Di sini, sekolah punya peran – tapi bukan cuma di ruang kelas, melainkan dalam cara orang dewasa bertindak sehari-hari. Terbuka soal uang itu penting, tapi lebih penting lagi adalah berani bilang tidak meski risikonya besar. Bangsa ini tak akan maju bila hari ini diam saja menyaksikan kerugian bersama. Keadilan yang lemah membuat hidup banyak orang jadi sia-sia, sementara harapan pupus pelan-pelan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *