Lonjakan wisatawan di Istano Basa Pagaruyung selama libur Idulfitri 1447 H bukan sekadar kabar baik, tetapi juga ujian serius bagi kualitas pengelolaan destinasi. Ribuan pengunjung—lokal hingga mancanegara—memadati ikon budaya Tanah Datar itu, dengan angka kunjungan menembus sekitar 10 ribu orang dalam sehari.
Daya tarik arsitektur rumah gadang dan jejak sejarah Kerajaan Pagaruyung terbukti masih menjadi magnet kuat. Wisatawan tak hanya datang melihat, tetapi juga “mengalami” budaya—mulai dari berfoto dengan pakaian adat hingga menikmati lanskap alam yang mengelilingi kawasan tersebut.
Pengalaman itu dirasakan Dewi, wisatawan asal Batam, yang untuk pertama kalinya mengunjungi lokasi tersebut. Hal serupa disampaikan Indah dari Riau, yang datang khusus untuk merasakan nuansa budaya Minangkabau secara langsung.
Menariknya, geliat ini juga menjangkau pasar internasional. Wisatawan asal Malaysia bahkan mengaitkan kunjungan ke Pagaruyung dengan destinasi lain seperti Pariangan dan Tan Kayo, menunjukkan adanya pola perjalanan wisata yang mulai terintegrasi di Sumatera Barat.
Namun di balik lonjakan ini, muncul pertanyaan mendasar: seberapa siap infrastruktur menampung euforia wisata? Eka Putra menegaskan pihaknya turun langsung memastikan fasilitas dasar—mulai dari kebersihan toilet hingga keamanan kawasan—tetap terjaga.
“Ramai itu penting, tapi nyaman jauh lebih menentukan,” menjadi pesan yang tersirat dari langkah pengawasan langsung di lapangan.
Fenomena ini menegaskan satu hal: Istano Basa Pagaruyung bukan hanya destinasi, tetapi etalase wajah pariwisata Sumatera Barat. Tantangannya kini bukan lagi menarik pengunjung, melainkan menjaga kualitas pengalaman agar lonjakan tidak berubah menjadi beban(d13)












