Bogor, relasipublik – Menhan RI Sjafrie Sjamsuddin, siang di akhir pekan hadiri Retret PWI di Puskom Bela Negara Kemhan RI di Rumpin.
Sjafrie Sjamsuddin mengatakan hadir di Retret PWI tidak menyampaikan makalah, tapi memberi motivasi tentang kedaulatan untuk membela negara.
“Kita berada ditengah ketidakpastian globalisasi dan perang opini di media sosial, tapi saya yakin kedaulatan negara pasti terjaga, karena ada dibarisan ini PWI,”ujar Sjafrie Sjamsuddin, Sabtu 31/1-2026.
PWI itu memiliki historis tegaknya kemerdekaan ini.
“Itu dulu bagaimana Pak Rosihan Anwar bersama Jenderal Besar Sudirman satu sisi mempertahan Indonesia merdeka, sejak dulu, kini dan kedepan PWI tetap di barisan pejuang menghantam perang opini di era digitalisasi yang membahayakan nasionalisme bangsa, mengerus kedaulatan ekonomi negara,”ujar Sjafrie disambut tepuk tangan 160 peserta Retret PWI.
Hadirnya PWI kata Sjafrie Sjamsuddin jadi angin segar bagi Kementerian Pertahanan sebagai instrumen negara untuk menjaga dan selamatkan keutuhan bangsa dan negara, tidak TNI saja, tapi untuk kedaulatan NKRI menjadi hak dan kewajiban setiap rakyat Indonesia.
“Untuk itu PWI harus berani dan punya komitmen untuk menjaga dan mengamalkan kedaulatan negara dalam menghadapi perang opini di era digitalisasi ini,”ujar Sjafrie yang dijawab teriakan “siapppp” 160 peserta retret PWI Bela Negara.
Menurut Sjafrie Sjamsuddin TNI dan pers solid menjaga keutuhan seluruh elemen kedaulatan.
“Jangan anggap enteng opini di era digitalisasi, tanpa kuat dengan sejarah bangsa sulit menghemoang opini yang akan menggerus kedaulatan negara,”ujar Sjafrie saat datang disambut meria, Menhan RI disambut Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dan Sekjen PWI Zulmansyah Sakedang.
Pers di tengah tantangan digital dan tantangan nasionalisme kebangsaan.
“Meski tantangan itu terjadi, pers senior dna insan pers di PWI punya senjata, yaitu tahu hostoris. PWI jangan tinggalkan gelanggang, PWI harus berada di baris depan hadapi tantangan digitalisasi, perlu terobosan menghadapi tantangan digitalisasii,”ujar Sjafrie Sjamsuddin.
Kondisi RI diera digitalisasi untuk kedaulatan komplek bangsa dinilai rapuh, karena kedualatan ekonomi Indonesia yang kaya sumber daya alam sejak dulu hingga kini dilarikan keluar negeri.
“Tak ada negara lain yang menolong, hanya kita sendiri yang bisa menolong negara kita sendiri. Negara sulit paling sulit itu rakyat, keberpihakan harus ditunjukan moral dan tindakan,”ujar Sjafrie Sjamsuddin
Indonesia kata Sjafrie Sjamsuddin harus realisme itu bukan apa yang terjadi dan bukan harus bangkit dengan kompak dan solid saja.
“Untuk itu, insan pers penting dan peru untuk satukan apa yang dikepala dan dihati, PWI jangan berhenti untuk memainkaikan peran penting bernegara dan bangsa, siapapun harus dihadapi dengan pertahanan yang kuat,”ujarnya.
Karena tanpa pertahanan negara tidak akan eksis. Selain itu perlu penertiban sistem, perlu dievaluasi karena banyak sub sistem melenceng.
“Pengusaha tak pernah ganti, dia hapal tipologi pejabat dan penguasa negara yang dibatasi masa menjabatnya,”ujar.
Saat ini untuk menjaga kedaualatan, Presiden dan jajaran pembantunya sudah bertekad untuk menyikat apa pun yang ilegal tentang kekayaan alam negara ini.
“Bagi yang punya aktifitas ilegal hentikan, dan ada denda karena perbuatan itu bayar, karena pemerintah pasti akan bertindak tegas dalam penegakkan hukum,”ujar Sjafrie disambut tepuk tangan dan koor suara,
terima kasih bapak Menhan,
terima kasih bapak Menhan
dari Kami Retret PWI.(***)












