BeritaDaerahKabupaten Tanah DatarSosial & BudayaTERBARU

Osman Sapta dan Misteri Keris “Sikati Muno”: Tugu Bertuah untuk Jantung Minangkabau

27
×

Osman Sapta dan Misteri Keris “Sikati Muno”: Tugu Bertuah untuk Jantung Minangkabau

Sebarkan artikel ini

TANAHDATAR,RELASIPUBLIK– Nama Osman Sapta (OSO) kembali menjadi sorotan, kali ini bukan hanya karena kiprahnya di panggung nasional, melainkan karena keterlibatannya dalam peristiwa budaya yang sarat makna: Peletakan Batu Pertama Tugu Keris Sakati Muno, pusaka legendaris Minangkabau yang bertuah.

Keris yang dikenal sebagai Sikati Muno atau Karih Sakati Muno dipercaya memiliki kekuatan luar biasa: “tak kanai di ujuang pangka, jajak ditikam mati juo.” Artinya, tanpa menyentuh pun, keris ini mampu menumbangkan musuh. Simbol kekuatan spiritual, ketajaman niat, dan warisan sakral nenek moyang.

Tugu Karih Sakati Muno akan dibangun di Medan Bapaneh, di wilayah Kapalo Koto Jorong Gurun Sungai Tarab, Luhak Nan Tuo, Kabupaten Tanah Datar, hanya 7 km dari Istano Basa Pagaruyuang. Peletakan batu pertama dijadwalkan pada Jumat, 18 April 2025, oleh Dr. Osman Sapta Dt. Bandaro Sutan Nan Kayo, bersama Bupati Tanah Datar, Eka Putra.

Siapa Osman Sapta ?

Osman Sapta adalah tokoh nasional yang dikenal sebagai pengusaha sukses, politisi senior, sekaligus Ia adalah Ketua Umum Gebu Minang (Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang), sebuah organisasi besar yang menghimpun perantau Minang dari seluruh dunia. Dalam posisinya sebagai Ketum Gebu Minang, OSO berperan besar dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Minangkabau dan mempererat jaringan sosial, ekonomi, serta kebudayaan masyarakat Minang baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai pemimpin yang berdarah Minang dan memegang gelar adat Dt. Bandaro Sutan Nan Kayo, OSO aktif mendorong pembangunan berbasis budaya. Kehadirannya dalam peletakan batu pertama tugu ini bukan sekadar simbolis, tetapi juga menunjukkan komitmennya pada pelestarian warisan leluhur.

Menurut Dr. Febby Dt. Bangso, inisiator pembangunan tugu, kegiatan ini adalah langkah strategis untuk membangun kembali peradaban Melayu di Asia Tenggara. Ia berharap tugu ini akan memperkuat komunitas Melayu di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei, serta menjadi tempat kajian budaya dan sejarah bersama melalui kerja sama lintas universitas.

“Ini bukan hanya tentang keris, tapi tentang harga diri dan identitas,” ujar Febby. Ia menekankan bahwa ungkapan “Takkan Melayu Hilang dari Bumi” bukan hanya semboyan, melainkan janji budaya bahwa nilai-nilai luhur, ilmu, dan kekuatan spiritual Melayu-Minang akan terus hidup, melintasi zaman dan generasi.

Febby juga menyebut rencana jangka panjang berupa pembangunan Museum Karih Minang di lokasi tugu. Museum ini akan menjadi pusat edukasi, riset, dan wisata budaya, memperkenalkan filosofi keris kepada generasi muda serta memperluas pemahaman publik tentang peran keris dalam peradaban Minangkabau.

Dengan berdirinya tugu Karih Sakati Muno, Luhak Nan Tuo kembali ditegaskan sebagai jantung Minangkabau dan pusat peradaban Melayu di Asia. Sebuah langkah konkret untuk merawat akar dan menyuburkan ranting budaya Nusantara. Karena sejatinya, “Takkan Melayu Hilang di Bumi.”(*/fdb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *