Kabupaten Tanah Datar

Pacu Jawi Kembali Menggema, Sawah Tangah Tegaskan Tradisi Bukan Sekadar Tontonan

23
×

Pacu Jawi Kembali Menggema, Sawah Tangah Tegaskan Tradisi Bukan Sekadar Tontonan

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar

Derap kaki sapi membelah lumpur kembali mengguncang Sawah Banda Bawah, Nagari Sawah Tangah, Rabu (25/3). Alek Pacu Jawi resmi dibuka, bukan sekadar perhelatan budaya, tetapi penegasan bahwa tradisi Minangkabau masih berdiri kokoh di tengah gempuran modernitas.

Pembukaan dilakukan oleh Bupati Tanah Datar yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Inhendri Abbas Dt. Tambosa. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Pacu Jawi bukan hanya atraksi wisata, melainkan warisan budaya yang sarat nilai filosofi, kebersamaan, dan identitas masyarakat agraris Minangkabau.

“Pacu Jawi adalah cerminan semangat gotong royong, sportivitas, sekaligus kearifan lokal yang harus terus kita jaga. Pemerintah daerah berkomitmen menjadikan event ini sebagai daya tarik wisata unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan event secara profesional agar Pacu Jawi tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi mampu menembus panggung nasional hingga internasional. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, niniak mamak, pemuda, dan perantau menjadi kunci keberlanjutan tradisi tersebut.

Alek Pacu Jawi di Sawah Tangah kali ini juga menjadi ruang temu lintas generasi. Tradisi yang berakar dari budaya pascapanen ini tak hanya menghadirkan adu cepat sapi di lintasan berlumpur, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan kebanggaan kolektif masyarakat nagari.

Turut hadir dalam pembukaan tersebut Ketua PORWI Kabupaten Tanah Datar H.A. Dt. Andomo, S.Ag beserta jajaran pengurus, unsur Forkopimca, Ketua TP PKK Kecamatan, Wali Nagari dan perangkat, BPRN, KAN, para perantau, pecandu pacu jawi, serta tamu undangan lainnya.

Di tengah sorak penonton dan lumpur yang beterbangan, Pacu Jawi kembali membuktikan diri: ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan denyut nadi budaya yang terus hidup—dan menolak dilupakan(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *