Kabupaten Solok

Pertama di Sumatera Barat, Forum Bank Sampah Kabupaten Solok Resmi Dikukuhkan

4
×

Pertama di Sumatera Barat, Forum Bank Sampah Kabupaten Solok Resmi Dikukuhkan

Sebarkan artikel ini
Foto: istimewa

Solok, Relasipublik.com – Pengelolaan sampah di Kabupaten Solok memasuki babak baru. Sebanyak 20 pengurus Forum Bank Sampah Kabupaten Solok resmi diluncurkan dan dikukuhkan sebagai forum bank sampah pertama di Sumatera Barat.

Forum tersebut diinisiasi oleh PT Tirta Investama AQUA Solok bersama PKBI Sumatera Barat, sebagai upaya memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular dari sumber.

Pengukuhan yang berlangsung pada Selasa (1/9/2026) ini menjadi momentum penting dalam membangun kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, nagari dan masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah secara berkelanjutan.

Inisiatif pembentukan Forum Bank Sampah Kabupaten Solok juga menunjukkan semakin pentingnya peran dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil dalam mendukung agenda pembangunan lingkungan, terutama di tengah upaya penguatan efisiensi dan efektivitas pemerintahan.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Solok, Zaitul Ikhlas, menyampaikan bahwa keterbatasan sumber daya pemerintah tidak berarti agenda pembangunan lingkungan harus berhenti.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi dorongan untuk menghadirkan model kolaborasi yang semakin kuat dengan melibatkan berbagai pihak.

Dunia usaha dan organisasi nonpemerintah atau NGO dapat mengambil peran sebagai mitra pemerintah dalam menggerakkan masyarakat, memperkuat kelembagaan, meningkatkan kapasitas, serta menghadirkan berbagai inovasi di tingkat komunitas.

Hingga tahun 2026, Kabupaten Solok telah memiliki satu Bank Sampah Induk (BSI) dan 11 Bank Sampah Unit (BSU) yang aktif melakukan kegiatan pemilahan, pengumpulan hingga pemanfaatan kembali sampah.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya komitmen masyarakat untuk mulai mengurangi persoalan sampah sejak dari sumber. Namun demikian, penguatan koordinasi dan jejaring antarbank sampah dinilai masih diperlukan agar berbagai inisiatif yang telah tumbuh dapat berkembang secara lebih terarah, terpadu dan berkelanjutan.

Kepala Pabrik AQUA Solok, Deden, mengatakan pembentukan forum ini diharapkan mampu menjadi ruang bersama bagi seluruh penggerak bank sampah di Kabupaten Solok.

“Forum Bank Sampah Kabupaten Solok diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyatukan visi, memperkuat kapasitas kelembagaan, membangun komunikasi antarbank sampah, serta berkontribusi dalam penurunan volume sampah yang dibuang ke TPA,” ujar Deden.

Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan bersama dari berbagai unsur agar pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Tirta Investama AQUA Solok menjadi salah satu pihak yang secara konsisten mendukung pengembangan bank sampah dan pemberdayaan masyarakat di daerah.

Sementara itu, PKBI Sumatera Barat berperan sebagai mitra pelaksana dalam penguatan kelembagaan, edukasi kesehatan lingkungan, pemberdayaan komunitas, serta pengembangan kolaborasi multipihak.

Sekretaris Pengurus PKBI Sumatera Barat, Firdaus Jamal, menyampaikan dukungannya terhadap penguatan kelembagaan bank sampah sebagai bagian dari upaya membangun perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Rangkaian pengukuhan Forum Bank Sampah Kabupaten Solok juga menghadirkan talkshow dengan tiga perspektif penting dalam pengelolaan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok membahas arah kebijakan serta pentingnya kolaborasi berbagai pihak menuju Solok bebas sampah.

Kehadiran berbagai narasumber tersebut memperkuat pesan bahwa perubahan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan terdekat, mulai dari rumah tangga, komunitas, nagari hingga kelembagaan yang dibangun masyarakat.

Dengan resmi dikukuhkannya Forum Bank Sampah Kabupaten Solok sebagai forum pertama di Sumatera Barat, diharapkan lahir gerakan lingkungan yang semakin mandiri dan berkelanjutan.

Keberadaan forum ini juga menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak harus sepenuhnya bertumpu kepada pemerintah.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, NGO, akademisi, pemerintah nagari dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih kuat.

Kabupaten Solok kini tidak hanya membangun sistem, tetapi juga memperkuat jejaring dan kolaborasi. Sebab, menjaga lingkungan bukan semata tugas pemerintah, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari sumber dan tumbuh melalui partisipasi seluruh masyarakat. (A3)