Peristiwa

PETI di Sijunjung Kian Terbuka, Dugaan “Perlindungan” Informasi oleh Oknum Wartawan Mencuat

11
×

PETI di Sijunjung Kian Terbuka, Dugaan “Perlindungan” Informasi oleh Oknum Wartawan Mencuat

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com //  Sijunjung

Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di sejumlah wilayah Kabupaten Sijunjung dilaporkan semakin marak, bahkan tetap berlangsung selama bulan Ramadan. Di tengah ancaman kerusakan lingkungan, mesin-mesin dompeng hingga alat berat diduga terus beroperasi hampir tanpa jeda di beberapa titik lokasi tambang.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas tambang ilegal tersebut tidak lagi berjalan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa lokasi bahkan disebut beroperasi secara terbuka dengan menggunakan alat berat jenis excavator yang diduga disewa oleh para pengusaha tambang.

Sejumlah sumber menyebutkan satu unit excavator dapat disewakan hingga sekitar Rp150 juta untuk penggunaan sekitar 100 jam kerja. Nilai tersebut menggambarkan bahwa praktik PETI di wilayah ini bukan lagi sekadar aktivitas tambang tradisional, tetapi telah berkembang menjadi bisnis dengan nilai ekonomi yang besar.

Di balik aktivitas tersebut, muncul dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang memberikan “perlindungan informasi” agar operasi PETI tetap berjalan tanpa sorotan luas. Dugaan ini mencuat setelah beberapa sumber menyebut adanya aliran dana dari pengusaha tambang kepada pihak tertentu setiap bulannya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan para pengusaha PETI diduga menyisihkan dana puluhan juta rupiah setiap bulan. Dana itu disebut-sebut digunakan untuk mengantisipasi munculnya pemberitaan negatif di sejumlah media mengenai aktivitas tambang emas ilegal tersebut.

Tak hanya itu, dugaan keterlibatan oknum wartawan juga mulai menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan sesama jurnalis di daerah tersebut. Oknum wartawan tersebut diduga berperan sebagai pihak yang “mengamankan” informasi agar aktivitas tambang ilegal tidak menjadi sorotan publik secara luas.

Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp kepada seorang wartawan berinisial W yang disebut mengetahui aktivitas tersebut, yang bersangkutan tidak memberikan tanggapan hingga berita ini disusun.

Sementara itu, seorang wartawan nasional yang enggan disebutkan namanya mengaku pernah mendengar adanya koordinasi tertentu terkait pemberitaan tambang emas di wilayah tersebut.

“Lebih baik hubungi koordinator wartawan W, dulu untuk dikonfirmasi. Dia orang kepercayaannya para pengusaha PETI di Kabupaten Sijunjung,” ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya harapan dari sebagian pihak agar pemberitaan mengenai tambang emas ilegal tersebut tidak dipublikasikan.

“Kalau bisa jangan sampai terbit berita tentang tambang emas di Sijunjung ini. Pengusaha sudah banyak mengeluarkan uang,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berharap aktivitas tambang ilegal ini dapat menjadi perhatian serius berbagai pihak. Sebab jika praktik PETI terus berlangsung tanpa pengawasan, bukan hanya lingkungan yang terancam rusak, tetapi juga kepercayaan publik terhadap transparansi informasi dan integritas dunia pers(d13/rel,)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *