sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Safari Ramadan di Tanah Datar tak lagi sekadar agenda seremonial. Di Masjid Raya Rambatan, kunjungan pemerintah daerah berubah menjadi ruang dialog langsung—menghubungkan kebijakan dengan realitas warga di lapangan.
Abdurrahman Hadi yang mewakili Bupati menegaskan, Ramadan dimanfaatkan untuk “turun mendengar”. Dengan 22 tim menyasar 47 masjid, pemerintah mencoba membuka kanal aspirasi yang lebih jujur—di luar forum formal yang kerap kaku.
“Ini bukan hanya silaturahmi, tapi upaya membaca kebutuhan riil masyarakat,” menjadi pesan yang mengemuka.
Namun, di balik pendekatan humanis itu, terselip tantangan besar: keterbatasan anggaran. Pemerintah daerah mengakui berada dalam tekanan efisiensi, tetapi tetap berjanji melanjutkan program prioritas—mulai dari Satu Rumah Satu Hafiz, dukungan bagi guru TPA, hingga sektor pertanian seperti bajak sawah gratis dan pupuk bersubsidi.
Di titik ini, Safari Ramadan menjadi penting sebagai alat kalibrasi. Aspirasi masyarakat—dari infrastruktur jalan hingga kebutuhan fasilitas sosial—diminta masuk dalam jalur perencanaan resmi seperti musrenbang, agar tidak berhenti sebagai keluhan tanpa tindak lanjut.
Sementara itu, dari sisi masyarakat, Masjid Raya Rambatan justru menunjukkan arah baru: masjid sebagai pusat layanan sosial. Rencana kartu jamaah untuk akses kesehatan gratis hingga pemberdayaan UMKM menandakan pergeseran fungsi masjid dari ruang ibadah menjadi pusat pemberdayaan komunitas.
Pertemuan ini akhirnya memperlihatkan dua hal: pemerintah yang berupaya lebih mendengar, dan masyarakat yang mulai lebih terorganisir menyampaikan kebutuhan. Di antara keduanya, Safari Ramadan menjadi jembatan—yang akan bermakna jika benar-benar berujung pada kebijakan, bukan sekadar kunjungan tahunan(d13)












