BeritaDaerahKota Padangpanjang

Seabad Gempa Padang Panjang, JKIP Bahas Perihal Kebencanaan

21
×

Seabad Gempa Padang Panjang, JKIP Bahas Perihal Kebencanaan

Sebarkan artikel ini

Padang Panjang, relasipublik — Jelang seabad Gempa Padang Panjang Juni 1926, sejumlah wartawan bahas perihal kebencanaan pada kesempatan bincang lepas, Jumat (4/4/2025).

Pada kesempatan bincang lepas yang difasilitasi Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP), Nova Indra dari lembaga Alpha Rescue mengungkapkan sejumlah dinamika penanganan bencana di Padang Panjang.

Nova yang juga merupakan seorang jurnalis itu, mengungkapkan masih rendahnya respon pemerintah terhadap pentingnya mitigasi bencana. Baik prabencana, maupun pascabencana.

Di antaranya disebutkan Nova, dirinya bersama Alpha Rescue sudah melakukan pembentukan Gugus Sekolah Siaga Bencana (GSSB) dan Gugus Madrasah Siaga Bencana (GMSB).

“Dibetuk sejak Februari 2025, namun hingga saat ini setelah setahun berdiri, belum terlihat tindaklanjut dari Pemerintah Kota Padang Panjang melalui dinas terkait,” ungkap Nova.

Demikian juga halnya pembentukan cluster logistik yang merupakan program Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di Padang Panjang masih barus sebatas grup WhatsApp.

“Sebagaimana disampaikan pihak BNPB, cluster logistik merupakan katalog menakar kesiapan logistik suatu daerah, sebagai kesiapan saat dilanda bencana,” ulasnya.

Menyikapi kondisi tersebut, PJKIP Padang Panjang berinisiatif akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) kesiapsiagaan terhadap bencana.

Ketua PJKIP Padang Panjang, Rifnaldi Ce menyebut kegiatan tersebut nantinya diharapkan menjadi pemantik kesadaran semua pihak terhadap pentingnya tanggap bencana.

“Kita tidak mengklaim akan siap, sehingga tidak takut jika bencana datang. Namun kita akan lebih siap dan tanggap harus bagaimana saat dilanda bencana, sehingga dapat meminimalisir risiko pascabencana,” ucap Rifnaldi.

Termasuk alur informasi salah satunya, Rifnaldi melihat masih sangat minim di beberapa kali peristiwa bencana. Hal ini dinilai, suatu bukti masih rendahnya sinergi lintas sektor saat pascabencana.

“Di satu sisi kita lihat begitu banyaknya bantuan yang datang. Di sisi lain kita masih mendapatkan informasi ada korban bencana yang tidak tersentuh secara maksimal. Tidak diketahui pasti, kemana bantuan yang berlimpah tersebut disalurkan,” pungkas Rifnaldi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *