Rakor “Naik Gunung” Tanah Datar: Hemat Anggaran atau Sekadar Gimik?
Tanah Datar — Pemerintah Kabupaten Tanah Datar kembali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan konsep tak biasa: jauh dari ruang ber-AC dan hotel berbintang, kali ini rapat digelar di alam terbuka, tepatnya di panorama Batubadindiang, Nagari Tabek Patah. Ini menjadi kali kedua konsep serupa diulang, menandakan ada arah kebijakan baru yang ingin ditegaskan.
Bupati Tanah Datar, Eka Putra, tak menampik bahwa pilihan lokasi ini sarat pesan. Selain menindaklanjuti arahan Prabowo Subianto terkait efisiensi anggaran, Rakor “naik gunung” ini juga dijadikan etalase promosi wisata sekaligus mesin penggerak ekonomi lokal.
“Ini bukan sekadar rapat. Kita ingin publik tahu bahwa Batubadindiang adalah destinasi yang layak dilirik. UMKM masyarakat juga langsung bergerak karena seluruh kebutuhan peserta dipenuhi oleh warga,” ujar Eka Putra, Sabtu (17/4/2026).
Langkah ini memang terdengar ideal di atas kertas. Pemerintah daerah mengklaim penghematan anggaran hingga 80 persen dibandingkan pelaksanaan Rakor di hotel luar daerah. Seluruh peserta, termasuk bupati, bermalam di tenda—sebuah simbol kesederhanaan sekaligus pesan politis di tengah tuntutan efisiensi.
Namun, di balik narasi hemat anggaran, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan: apakah perubahan lokasi otomatis meningkatkan kualitas koordinasi?
Eka Putra memastikan tidak. Ia menegaskan substansi Rakor tetap berjalan maksimal. Materi pembahasan, termasuk inovasi daerah yang akan dipaparkan oleh Bappeda Litbang, tetap menjadi fokus utama. Bahkan, metode interaktif diterapkan agar peserta tidak kehilangan konsentrasi—setiap 30 menit, peserta diminta berdiri dan melakukan peregangan.
Di sisi lain, Rakor ini juga dikemas sebagai “ruang jeda” bagi OPD yang baru saja berjibaku menangani bencana di lapangan. Penyegaran di alam terbuka dinilai penting untuk menjaga stamina dan semangat aparatur.
Meski demikian, efektivitas konsep ini akan sangat bergantung pada konsistensi dan hasil nyata, bukan sekadar sensasi lokasi. Jika benar mampu menekan anggaran sekaligus mendorong ekonomi masyarakat sekitar, maka model ini layak diapresiasi. Namun jika hanya berhenti pada simbolisme dan romantisme alam, publik tentu berhak mempertanyakan.
Di akhir kegiatan, Bupati menyampaikan harapan klasik namun krusial: dukungan masyarakat.
“Kami mohon doa dan dukungan agar pemerintah daerah tetap konsisten dan semangat dalam melayani,” tutupnya.
Kini, publik menunggu: apakah Rakor di alam terbuka ini menjadi inovasi berkelanjutan atau hanya episode sesaat dalam panggung kebijakan daerah.












