Kabupaten Tanah Datar

Perantau Jadi Kekuatan Tersembunyi Pembangunan Tanah Datar, Pemda Diminta Tak Sekadar Seremonial

14
×

Perantau Jadi Kekuatan Tersembunyi Pembangunan Tanah Datar, Pemda Diminta Tak Sekadar Seremonial

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Bekasi

Keberadaan perantau asal Tanah Datar kembali ditegaskan bukan sekadar “penonton dari jauh”, melainkan salah satu pilar penting dalam denyut pembangunan kampung halaman. Pesan itu mengemuka dalam Halal Bihalal Ikatan Perantau Panyalaian Jakarta dan Sekitarnya (IKP Jaya), Minggu (19/04), di Graha Multi Guna, Bintara, Bekasi Barat.

Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, secara terbuka mengakui kontribusi nyata para perantau yang selama ini kerap hadir tanpa banyak sorotan, namun konsisten membantu melalui program sosial dan kegiatan kemasyarakatan.

“Perantau bukan hanya bagian dari identitas, tapi juga kekuatan riil pembangunan. Kekompakan mereka terbukti memberi dampak bagi kampung halaman,” ujarnya.

Namun di balik apresiasi itu, tersirat pesan yang lebih dalam: potensi besar perantau belum sepenuhnya terkelola secara strategis oleh pemerintah daerah. Padahal, jaringan, sumber daya, dan solidaritas yang dimiliki perantau bisa menjadi akselerator pembangunan jika disinergikan secara serius.

Ahmad Fadly yang hadir mewakili Bupati Tanah Datar juga menyampaikan rasa bangga sekaligus haru melihat soliditas perantau Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto. Tingginya kehadiran peserta menjadi bukti bahwa ikatan emosional dengan kampung halaman tetap kuat, meski terpisah jarak.

“Sebagai putra nagari, saya merasakan betul bagaimana kuatnya kebersamaan ini. Ini modal sosial yang luar biasa,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, isu krusial pun mengemuka: kondisi jalan lintas Padang Panjang–Bukittinggi di kawasan Panyalaian yang dikenal rawan kecelakaan. Pertanyaan dari tokoh masyarakat langsung diarahkan ke pemerintah—sebuah sinyal bahwa perantau tak hanya ingin bernostalgia, tetapi juga menuntut solusi konkret.

Menanggapi hal itu, Wabup mengungkapkan bahwa pemerintah pusat hingga daerah telah melakukan peninjauan langsung. Salah satu opsi yang tengah disiapkan adalah pembangunan emergency safety area sebagai langkah mitigasi.

Namun ia juga menggarisbawahi fakta lain yang tak kalah penting: faktor human error, khususnya kasus rem blong, masih menjadi penyebab dominan kecelakaan.

“Artinya, solusi tidak bisa hanya infrastruktur. Kesadaran dan disiplin pengguna jalan juga menjadi kunci,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan klasik di jalur tersebut tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial. Dibutuhkan langkah komprehensif yang menyentuh aspek teknis, edukatif, hingga pengawasan.

Ketua IKP Jaya, Yusrizal Ilyas, dalam kesempatan yang sama menyoroti meningkatnya partisipasi perantau. Dari rencana awal sekitar 100 peserta, jumlah yang hadir melonjak menjadi 270 orang—indikasi kuat bahwa semangat kebersamaan masih terjaga.

Mengusung tema “Saciok bak ayam, sadanciang bak basi, basamo mambangun nagari”, kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan antara rantau dan ranah.

“Saat ini Panyalaian menjadi perhatian karena seringnya terjadi kecelakaan. Ini tanggung jawab bersama, dan kami berharap pemerintah hadir dengan solusi nyata,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Tanah Datar Erdison Dt. Perpatih, perwakilan IKAPABASKO, Wali Nagari Panyalaian, unsur KAN dan BPRN, tokoh masyarakat hingga akademisi, yang kemudian dilanjutkan dengan sarasehan.

Momentum ini menjadi pengingat: kekuatan perantau bukan hanya pada nostalgia, tetapi pada daya dorong perubahan. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu menangkap energi besar ini menjadi kebijakan konkret, atau justru kembali berhenti pada seremoni tahunan tanpa arah yang jelas(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *