Kota Padang

KRISIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN PARAH “Nama Nasrul Azwar Muncul Sebagai Calon Ketua FJPI Sumbar” 

33
×

KRISIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN PARAH “Nama Nasrul Azwar Muncul Sebagai Calon Ketua FJPI Sumbar” 

Sebarkan artikel ini

Padang, relasipublik – setelah berlarut-larut selama 6 bulan lebih, sampai saat ini organisasi Forum Jurnalis Perempuan (FJPI) Sumbar belum juga berhasil mendudukkan calon formatur Ketua FJPI periode 2026-2029. Hal ini dipicu oleh kondisi banyaknya calon yang diusulkan menolak jabatan tersebut dengan berbagai alasan. Hal ini membuktikan bahwa saat ini krisis kepemimpinan perempuan di lembaga publik di Sumbar nyata dan semakin parah.

Demikian diungkapkan ketua Musda FJPI Sumbar, Ka’bati dalam jumap pers seusai pelaksanaan Musyawarah Pra Musda, Rabu (6/5/2026) di Kafe Paranona Padang.

“Kami sudah berusaha menjaring para kandidat calon ketua semenjak Desember tahun lalu namun kebanyakan calon menolak dengan berbagai alasan. Baik alasan administratif maupun alasan beban domestik,” jelas Pimred Media online padusinews.id ini.

Hal ini dibenarkan oleh sekretaris Musda yang juga menjabat sebagai sekretaris FJPI Periode 2023-2025 lalu, Yunisma.

“Parahnya, hasil penjaringan yang kami lalukan justru memunculkan nama jurnalis laki-laki Nasrul Azwa, pimred sumbarsatu,com sebagai salah seorang kandidat” jelas jurnalis senior dari Surat Kabar Singgalang sekaligus owner Kitapunya. Com ini.

Lebih jauh dikatakan Yunisma yang akrap dipanggil Yuke, bahwa Nasrul Azwar yang akrab diapnggil Mak Naih sejauh ini memang termasuk jurnalis laki-laki yang peduli dan sering terlibat dengan kegiatan yang diadakan oleh FJPI.

Krisis kepemimpinan perempuan ini tidak saja terjadi di FJPI, di dinas pemerintahan yang mengurusi urusan pemberdayaan perempuan dan anak ( DP3AP2KB) tingkat kota juga banyak yang diisi oleh laki-laki.

Menanggapi fenomena ini, Nita Arifin selaku ketua FJPI Sumbar mengatakan bahwa kondisi ini karena adanya persepsi yang keliru tentang arti kepemimpinan.

“Sebetulnya kurang tepat kalau disebut krisis. Banyak kok perempuan hebat dari Sumbar. Cuma mungkin karen mereka menganggap posisi itu sebagsi beban yang dianggap berat. Mereka melihat dalam.kacamata yg berbeda sehingga jadi berat” ujar pimpinan padangmedia.com ini.

Semwntara itu, Devi Diani dari Khazanah.com mengatakan bahwa hambatan kepemimpinn perempuan itu berlapis, baik secara struktural maupun secara kultural.

” Saya bukan tidak mau maju sebagai ketua, namun masalahnya saya juga tergabung dengan organisasi lain yang tidak membolehkan saya rangkap jabatan, ini salah satu yang saya sebut hambatan struktural. Memang aturannya yang membatasi ” jelas Devi Diani yang sebelumnya menjadi kndidat kuat. Hal senada juga dikatakan oleh Mona Siska yang saat ini juga menjabar sebagai salah seorang komisioner KI.

Yunisma yang juga diusulkan sebagai ketua menolak dengan alasan domestik dan beban ganda kerja yang membuatnya susha mempertanggungjawabkan amanah.

Namun demikian, Ka’bati yakin bahwa calon-calon yang kuat sebenarnya masih banyak, tapi perlu dorongan kuat dan saling menguatkan sehingga mereka muncul dengan penuh percaya diri.

“Kami akan terus berusaha menyiapkan kader pemimpin perempuan yang tangguh untuk memimpin organisasi ini. Saya yakin ada, hanya butuh komitmen bersama dan kelapangan hati untuk saling menguatkan. Tanpa itu susah bagi perempuan maju sebagai pemimpin karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa beban ganda perempuan itu nyata,” ujarnya menutup pembicaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *