Solok, Relasipublik.com – Di sebuah rumah sederhana di Nagari Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak, senyum itu akhirnya pecah. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan penerangan, aliran listrik kini resmi menyala di rumah warga penerima Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Tahun 2026.
Senin pagi, suasana di depan Kantor Wali Nagari Kacang terasa berbeda. Masyarakat berkumpul menyaksikan langsung peresmian program yang dilakukan oleh Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama Manajer PT PLN (Persero) UP3 Solok Hariani.
Bagi sebagian orang, listrik mungkin hanya soal tombol saklar dan cahaya lampu. Namun bagi warga di pelosok Kabupaten Solok, listrik adalah harapan baru: anak-anak bisa belajar pada malam hari, usaha kecil dapat berkembang, dan aktivitas keluarga tidak lagi bergantung pada lampu minyak atau sambungan seadanya.
“Ini adalah kebahagiaan kita bersama. Pemerintah hadir untuk masyarakat, bagaimana masyarakat dapat menikmati akses listrik yang layak demi menunjang kehidupan, pendidikan, dan perekonomian,” ujar Jon Firman Pandu dalam sambutannya, (18/05/26)
Program BPBL memang bukan sekadar proyek pemasangan kabel dan meteran. Di balik penyalaan simbolis itu, ada cerita panjang tentang pemerataan pembangunan yang selama ini menjadi harapan masyarakat.
Nagari Kacang sendiri pernah menjadi salah satu wilayah yang mengalami kendala kelistrikan. Warga kerap mengeluhkan tegangan listrik yang tidak stabil hingga keterbatasan akses pemasangan baru. Kini, perlahan kondisi tersebut mulai berubah.
Manajer PLN UP3 Solok Hariani menyebut Kabupaten Solok menjadi salah satu daerah dengan respons tercepat dalam membangun koordinasi bersama PLN demi mempercepat pelayanan listrik bagi masyarakat.
“Tanpa dukungan dan usulan dari Bapak Bupati beserta jajaran pemerintah daerah, program ini tentu tidak berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Data PLN mencatat, sepanjang tahun 2025 sebanyak 1.395 rumah di Kabupaten Solok telah menerima manfaat program BPBL. Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata bagaimana listrik mulai menjangkau rumah-rumah yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan energi.
Di tengah kegiatan, suasana haru terlihat saat bantuan paket sembako dari YBM PLN Solok dan voucher listrik diserahkan kepada 25 keluarga penerima manfaat. Beberapa warga tampak berkaca-kaca ketika nama mereka dipanggil satu per satu.
Bagi mereka, bantuan itu bukan hanya soal materi, tetapi bentuk perhatian bahwa negara benar-benar hadir hingga ke nagari.
Kegiatan kemudian dilanjutkan menuju salah satu rumah warga penerima bantuan. Di rumah sederhana itu, Bupati Solok bersama pihak PLN melakukan penyalaan listrik secara simbolis.
Ketika lampu mulai menyala, tepuk tangan spontan terdengar dari warga yang menyaksikan. Anak-anak berdiri di depan rumah dengan wajah berbinar, sementara para orang tua tampak tak mampu menyembunyikan rasa syukur.
Momentum itu menjadi lebih dari sekadar seremoni pemerintahan. Ia menjadi simbol bahwa pembangunan tidak selalu harus diwujudkan lewat gedung megah atau proyek besar, tetapi juga lewat cahaya kecil yang mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Jon Firman Pandu juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Saya berharap kepada kita semua untuk tetap bersama-sama membangun Kabupaten Solok. Hati-hati terhadap fake informasi yang sangat berbahaya,” pesannya.
Di akhir kegiatan, satu per satu rombongan meninggalkan Nagari Kacang. Namun cahaya yang baru menyala di rumah-rumah warga sore itu seolah menjadi pertanda bahwa pembangunan di Kabupaten Solok sedang bergerak menuju arah yang lebih merata. (A3)












