Jakarta, relasipublik – Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses transformasi BUMN dimulai dari pendataan ulang seluruh perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Menurut Dony, pada awal proses pendataan jumlah perusahaan BUMN yang tercatat terus berubah-ubah, mulai dari 888 perusahaan, kemudian 900, 970, 1.000, hingga akhirnya mencapai lebih dari 1.073 perusahaan.
“Artinya kita bahkan tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah perusahaan yang kita miliki. Karena ada anak perusahaan, cucu perusahaan, cicit perusahaan, dan berbagai entitas lainnya,” ujar Dony Oskaria pada Podcast @BukanKalengKalengID yang tayang Rabu, (10/6/2026).
Setelah memperoleh data yang lebih akurat, Danantara melakukan evaluasi menyeluruh melalui program fundamental business review.
Seluruh perusahaan dianalisis berdasarkan standar global dengan melihat model bisnis, sumber pendapatan, struktur biaya, pangsa pasar, kemampuan organisasi, kondisi keuangan hingga tata kelola perusahaan.
Dari hasil evaluasi tersebut, Danantara membagi perusahaan-perusahaan BUMN ke dalam empat kelompok utama.
Kelompok pertama adalah perusahaan yang harus dilikuidasi.
Perusahaan dalam kategori ini dinilai sudah tidak memiliki prospek yang memadai karena kondisi keuangannya terlalu berat, aset tidak lagi mampu menutupi kewajiban, serta tidak memiliki peluang bisnis yang menjanjikan.
Kelompok kedua adalah perusahaan yang didivestasi.
Kategori ini mencakup bisnis-bisnis non-core yang masih memiliki nilai ekonomi sehingga dapat dilepas kepada investor.
Contohnya adalah travel agent milik Pertamina, bisnis fiber optic milik PP, hingga Edmedica yang berada di bawah Telkom.
“Tujuannya agar perusahaan kembali fokus pada bisnis inti masing-masing,” kata Dony.
Kelompok ketiga adalah perusahaan yang dikonsolidasikan.
Dalam kategori ini, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor yang sama akan digabungkan menjadi entitas yang lebih besar dan efisien.
Salah satu contohnya adalah konsolidasi 16 perusahaan logistik menjadi satu perusahaan logistik nasional di bawah PT Pos Indonesia.
Selain sektor logistik, konsolidasi juga dilakukan pada sektor rumah sakit, hotel, sekuritas, industrial estate, asset management, dan asuransi.
Untuk sektor asuransi, sekitar 15 perusahaan yang saat ini tersebar akan digabungkan menjadi tiga perusahaan besar, yaitu life insurance, general insurance, dan credit insurance.
Menurut Dony, langkah konsolidasi ini bertujuan menciptakan skala ekonomi yang lebih besar sehingga perusahaan-perusahaan BUMN mampu bersaing secara global.
“Kita desain ulang business model-nya berdasarkan benchmark internasional. Jadi bukan sekadar digabung, tetapi juga dibangun ulang agar lebih kompetitif,” ujarnya.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya Danantara membangun BUMN yang lebih sehat, fokus, dan berkelanjutan di masa depan. (***)












