Berita

Dibalik Rehat TMMD, TNI dan Warga Rajut Keakraban Penuh Canda

16
×

Dibalik Rehat TMMD, TNI dan Warga Rajut Keakraban Penuh Canda

Sebarkan artikel ini

Purbalingga, relasipublik – Terik matahari siang itu tak sepenuhnya menghapus semangat di lokasi TMMD Reguler di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara. Disela-sela aktivitas pembangunan yang menyita tenaga, suasana mendadak berubah hangat ketika waktu istirahat tiba. Bukan sekadar melepas lelah, momen rehat justru menjadi ruang sederhana yang mempererat hubungan antara TNI dan warga.

Dibawah rindangnya pepohonan, sejumlah anggota Satgas TMMD tampak duduk berbaur bersama masyarakat. Tawa ringan sesekali pecah, mencairkan suasana yang sebelumnya dipenuhi kesibukan. Obrolan pun mengalir tanpa sekat, dari cerita keseharian hingga harapan tentang perubahan desa ke depan.

Serka Anwar, salah satu anggota Satgas TMMD, mengaku momen seperti ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan di lapangan. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun saat istirahat justru memperkuat semangat gotong royong saat kembali bekerja.

“Di waktu seperti ini, kami bisa lebih dekat dengan warga. Bukan hanya bekerja bersama, akan tetapi saling mengenal dan berbagi cerita,” ujarnya sambil tersenyum, Senin (27/4/2026).

Sementara itu, Mbah Kardi, warga setempat yang turut hadir dalam kebersamaan tersebut, tampak menikmati suasana santai itu. Dengan wajah sumringah, Ia sesekali menimpali candaan para anggota TNI, membuat suasana semakin akrab.

Bagi Mbah Kardi, kehadiran Satgas TMMD bukan hanya membawa pembangunan fisik, namun dapat menghadirkan kebersamaan yang jarang dirasakan sebelumnya.

“Rasanya seperti keluarga sendiri. Ada yang membantu, ada yang menghibur. Jadi capeknya tidak terasa,” tuturnya pelan.

Kehangatan yang tercipta di balik waktu istirahat itu menjadi gambaran nyata bahwa TMMD bukan sekedar program pembangunan. Lebih dari itu, TMMD menghadirkan ruang kebersamaan, menumbuhkan rasa saling memiliki, serta memperkuat ikatan antara TNI dan masyarakat.

Diantara lumpur jalan yang masih dibangun dan peluh yang belum sepenuhnya kering, canda dan tawa menjadi energi tambahan. Sebuah kekuatan sederhana yang membuat setiap langkah pembangunan terasa lebih ringan dan penuh makna. (Mukhid Pen Purbalingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *