Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita UtamaKota PadangTERBARU

Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Andalas Berdedikasi Melestarikan Itiak Lado Hijau Khas Koto Gadang

88
×

Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Andalas Berdedikasi Melestarikan Itiak Lado Hijau Khas Koto Gadang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Naura Azizah, Mahasiswa Universitas Andalas

Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berdedikasi untuk melestarikan masakan khas Koto Gadang, yaitu itiak lado hijau, telah menjalankan kegiatan dengan antusiasme tinggi. Dengan semangat gotong royong, mereka berkolaborasi dengan warga setempat untuk memasak warisan kuliner yang kaya rasa dan tradisi.

Konon masyarakat Minangkabau selalu menyajikan itiak lado hijau saat acara besar salah satunya saat panen pada masa penjajahan kolonial belanda. Namun, pada zaman sekarang itiak lado hijau dimasak saat acara besar seperti hajatan, sunatan maupun acara tujuh harian kematian.

“Mulanya itiak lado hijau bisa menjadi makanan khas Koto Gadang adalah karena masyarakat daerah sini banyak beternak itiak, sehingga mereka membuat gulai itiak tapi dengan ciri khas yang berbeda. Gulai itiak yang biasanya menggunakan santan diganti dengan lado hijau, yang memiliki cita rasa gurih yang berbeda.” Ujar ibu Fitriyanti, salah satu masyarakat Jorong Sutijo, Nagari Koto Gadang.

Itiak lado hijau terkenal sebagai gulai tradisional atau gulai adat menurut warisan nenek moyang masyarakat Koto Gadang. Daya tariknya terletak pada kombinasi daging itiak yang dimasak dalam waktu yang cukup lama dengan api, kurang lebih selama 4 jam agar empuk dengan paduan rempah-rempah serta lado hijau. Itiak yang digunakan adalah itiak yang masih muda, kecil tapi gemuk. Lado hijau atau lado mudo merujuk pada cabai hijau yang menjadi bahan utama dan ciri khas dalam pembuatan sambal untuk itiak lado hijau.

“Dalam memasak itiak segala hal harus pas, mulai dari proses pembersihan agar daging tidak anyir, pemilihan bumbu seperti contohnya bawang putih, dipilih berukuran yang lebih kecil, karena memiliki rasa lebih kuat. Lama waktu memasak juga harus diperhatikan, karena jika dimasak kurang dari waktu yang seharusnya menyebabkan daging alot dan sulit untuk dimakan, apinya juga harus kecil.” Ucap ibu Fitriyanti kembali.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN terlibat langsung dalam kegiatan memasak bersama warga, membagi pengetahuan, dan bertukar pengalaman. Selain itu, mereka juga melakukan riset terkait bahan-bahan tradisional yang digunakan, memastikan keaslian dan kualitas masakan Itiak Lado Hijau tetap terjaga. Melalui interaksi langsung, kelompok ini berhasil menciptakan ikatan yang erat antara mahasiswa dan masyarakat, menjadikan proses ini lebih dari sekadar kegiatan akademis.

Keberhasilan kegiatan ini tidak hanya terlihat dari segi kuliner dan ekonomi, tetapi juga dari segi pelestarian budaya. Mahasiswa KKN telah berhasil menyemangati warga setempat untuk tetap melestarikan resep-resep tradisional, mengenalkan generasi muda pada kekayaan kuliner lokal, dan menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi contoh nyata kolaborasi yang harmonis antara mahasiswa perguruan tinggi dan masyarakat dalam melestarikan kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *