Pariaman, relasipublik – Sulaman benang emas Nareh di Pariaman kian terancam hilang. Para pengrajinnya kebanyakan sudah lanjut usia, sementara minat generasi muda terus merosot. Tapi seorang anak muda bernama Ananda Putriani tak mau sekadar mengeluh.
Dia bukan pengrajin senior. Ananda adalah dosen sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dari jarak itulah dia melihat masalah yang lebih besar: yang nyaris punah bukan hanya sulaman, tapi juga ruang bagi generasi baru, termasuk mereka yang tak pernah dianggap sebagai pewaris budaya.
Ananda pun merancang langkah tak biasa. Dia menggelar pelatihan sulaman yang melibatkan penyandang disabilitas, khususnya pelajar tunadaksa dari SLB Negeri 2 Pariaman, bersama masyarakat umum.
Program ini didukung skema Dana Indonesiana, sebuah inisiatif negara untuk menghidupkan kembali warisan budaya lewat praktik di masyarakat. Pelatihan ini juga berkolaborasi dengan pengrajin lokal dari kelompok Sulaman Indah Mayang di Nareh, yang selama ini menjadi penjaga teknik sulaman tradisional.
Pimpinan Sulaman Indah Mayang mengakui kegiatan ini memberi harapan baru. “Selama ini kami kesulitan mencari penerus. Melalui kegiatan ini, kami melihat ada semangat baru, terutama dari peserta muda dan penyandang disabilitas,” ujarnya.
Yang menarik adalah pendekatannya. Selama ini pelestarian budaya cenderung eksklusif, hanya melibatkan mereka yang dianggap “mampu”. Penyandang disabilitas lebih sering ditempatkan sebagai penerima bantuan, bukan pelaku. Kini batas itu perlahan dipatahkan.
Ananda melihat banyak penyandang tunadaksa punya kemampuan motorik tangan yang baik, ketekunan tinggi, dan minat pada keterampilan menyulam. Yang kurang bukan kemampuan, melainkan kesempatan.
Salah satu peserta, Ani Saputri, mengaku mendapat pengalaman baru yang berarti. “Saya merasa kegiatan ini sangat bermanfaat. Saya jadi bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” ujarnya.
Pelatihan ini tak hanya menyelamatkan sulaman Nareh dari kepunahan, tapi juga membuka jalan bagi penyandang disabilitas dan masyarakat untuk sama-sama menjadi bagian dari ekosistem budaya. Sebuah pameran kecil di akhir kegiatan pun memajang karya-karya mereka, mengubah persepsi bahwa pelaku budaya tak harus berasal dari satu kelompok tertentu.
”Budaya tidak akan punah hanya karena waktu. Ia hilang ketika kita membatasi siapa yang boleh menjaganya,” begitu pesan yang coba disampaikan Ananda.
Menolak Punah: Gerakan Sunyi Selamatkan Sulaman Benang Emas Pariaman












