Solok, Relasipublik.com — Jalan Lingkar, Nagari Koto Gaek Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sabtu (22/8/2026), berubah menjadi panggung budaya. Ribuan pasang mata tertuju pada barisan peserta Pawai Alegoris yang digelar Pemerintah Kabupaten Solok dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak iring-iringan pertama bergerak, suasana perayaan kemerdekaan terasa begitu kuat. Paskibraka membuka rangkaian pawai dengan atraksi, disusul dentuman drum band dan marching band yang seketika membangkitkan antusiasme masyarakat.
Pawai menempuh rute sekitar dua kilometer. Sepanjang jalur, warga berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, menyaksikan satu demi satu kontingen melintas dengan berbagai kreasi.
Pesertanya pun datang dari berbagai lapisan. Mulai dari murid TK, pelajar SD, SMP, SMA, MTsN, Madrasah Aliyah, utusan kecamatan dan nagari, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok.
Dari mimbar utama, Bupati Solok Dr. (HC) Jon Firman Pandu, SH bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Solok Ny. Nia Jon Firman Pandu menyaksikan langsung parade tersebut.
Turut hadir unsur Forkopimda, Kapolres Solok Arosuka, Dandim 0309 Solok, anggota DPRD, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Jefrizal, pimpinan BUMD, Ketua GOW Lian Oktavia, para kepala OPD serta sejumlah undangan lainnya.
Yang membuat pawai ini terasa berbeda bukan sekadar jumlah peserta. Setiap kontingen seolah membawa cerita dari daerah masing-masing.
Ragam pakaian adat, kesenian tradisional, atraksi hingga berbagai bentuk kreativitas ditampilkan sepanjang perjalanan. Identitas nagari dan kecamatan hadir dalam parade, menciptakan pemandangan yang menggambarkan keberagaman budaya Kabupaten Solok.
Sejumlah kontingen bahkan membawa kuliner khas daerah.
Makanan tradisional yang selama ini akrab di tengah masyarakat ditampilkan kepada publik sebagai bagian dari parade. Kuliner tidak lagi sekadar sajian, tetapi menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya yang diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Di titik inilah Pawai Alegoris tidak hanya menjadi tontonan. Ia berubah menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa kemerdekaan juga dapat dirayakan melalui pelestarian budaya, kreativitas dan potensi lokal.
Para pelajar dari tingkat TK hingga SMA tampil dengan kostum dan kreasi masing-masing.
Ada yang membawa nuansa perjuangan, ada yang menampilkan pakaian daerah, sementara lainnya hadir dengan konsep kreatif yang membuat masyarakat di sepanjang jalan memberikan tepuk tangan.
Suara musik marching band menjadi salah satu magnet utama. Koreografi dan atraksi para peserta membuat suasana semakin meriah.
Tepuk tangan warga beberapa kali terdengar lebih riuh ketika kontingen memasuki area depan mimbar utama.
Bagi para pelajar, momentum tersebut bukan hanya kesempatan untuk tampil. Pawai menjadi ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menanamkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Tidak hanya pelajar dan masyarakat yang tampil. Kontingen OPD juga memanfaatkan Pawai Alegoris untuk memperkenalkan program, hasil karya dan capaian yang telah dilakukan.
Berbagai potensi dan program pemerintah ditampilkan secara kreatif agar lebih mudah dilihat dan dikenal masyarakat.
Dengan begitu, pawai tidak berhenti sebagai hiburan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga menjadi media komunikasi publik, ketika pemerintah memperlihatkan hasil kerja dan pembangunan secara langsung kepada masyarakat.
Dari mimbar utama, Jon Firman Pandu terlihat antusias menyaksikan setiap penampilan. Sesekali ia melambaikan tangan kepada peserta yang melintas di depan panggung.
Respons serupa datang dari masyarakat yang memenuhi sepanjang rute.
Pawai Alegoris HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Solok pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: kemerdekaan masih dirayakan dengan cara yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
Gotong royong, kreativitas, budaya, pendidikan dan semangat kebersamaan berpadu dalam satu parade.
Setiap kontingen datang membawa identitas masing-masing. Namun ketika seluruhnya bergerak dalam satu barisan, perbedaan itu justru menjadi kekuatan yang memperlihatkan wajah Kabupaten Solok yang beragam.
Semangat itulah yang diharapkan tidak berhenti ketika pawai usai.
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum untuk terus memperkuat persatuan, menjaga budaya dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Sebab, mengisi kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana seluruh elemen masyarakat bergerak bersama membangun masa depan Kabupaten Solok yang semakin maju. (A3)












