Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaBerita UtamaDaerahKabupaten Tanah DatarTERBARU

Residensi Seniman Asing, Angin Segar Dalam Upaya Pengenalan dan Pelestarian Budaya

409
×

Residensi Seniman Asing, Angin Segar Dalam Upaya Pengenalan dan Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini
Puncak kegiatan residensi seniman asing, di lapangan Cindua Mato Minggu (12/11) yang dihadiri oleh Elizar, SH selaku Asisten Satu bidang pemerintahan mewakili Bupati Tanah Datar, Dewa Ayu Okta mewakili dari Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Dirjend Kemenristek RI beserta tim, Afrizal, Sekretaris Parpora Tanah Datar, Ariswandi selaku Kabid Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, peserta residensi pelaku budaya asing 2023 yang berasal dari berbagai Negara serta tokoh dan masyarakat se Kabupaten Tanah Datar. (Foto dok/d13)

TANAH DATAR, RELASI PUBLIK – Puncak kegiatan residensi seniman asing dengan menampilkan pagelaran silek yang bertajuk Resonansssilek, kolaborasi antara seniman asing dengan seniman lokal yang berlangsung di pusat kota Budaya Batusangkar, lapangan Cindua Mato Minggu (12/11) dihadiri oleh Elizar, SH selaku Asisten Satu bidang pemerintahan mewakili Bupati Tanah Datar, Dewa Ayu Okta mewakili dari Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Dirjend Kemenristek RI beserta tim, Afrizal, Sekretaris Parpora Tanah Datar, Ariswandi selaku Kabid Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, peserta residensi pelaku budaya asing 2023 yang berasal dari berbagai Negara serta tokoh dan masyarakat se Kabupaten Tanah Datar.

Pada kesempatan itu, Elizar menyampaikan kegiatan residensi pelaku budaya asing yang dilaksanakan di Tanah Datar bagi pemerintah daerah tentu angin segar dalam upaya pengenalan dan pelestarian budaya.

“Pelestarian budaya merupakan upaya memelihara dan melindungi aset bangsa karena Seni dan budaya merupakan kekayaan warisan masa lalu yang harus terus dirawat, dijaga dan dikembangkan, salah satunya dengan memperkenalkan budaya kita ke banyak orang,” papar Elizar.

“Memelihara warisan adat dan budaya bukan berarti kita tidak hidup di zaman modernisasi, namun modernisasi harus di ambil sisi positifnya sehingga mendukung program pelestarian budaya dan promosi wisata, sehingga mampu menambah khazanah dan daya kreasi terhadap seni budaya, seperti yang sekarang sedang di pertunjukkan,” sambung Elizar.

Kemudian, Elizar juga berpesan dan berharap kepada generasi muda tertumpang harapan kami untuk dapat menjadi pewaris dan pelestari nilai-nilai sejarah, adat budaya yang ada di Minangkabau dengan cara terus mempelajari dan menggalinya.

“Peran pemuda sangat penting untuk mempertahankan sebuah identitas dan karakter yang kita miliki sebagai masyarakat Minangkabau,” ujar Elizar.

Dewa Ayu Okta juga menjelaskan bahwa kegiatan pertunjukan silek pada malam ini merupakan rangkaian puncak kegiatan residensi pelaku budaya asing yang pada tahun ini memfokuskan pada ekosistem budaya silek di Sumatera Barat. Kegiatan residensi sudah dimulai sejak tanggal 24 Oktober sampai 12 November 2023 yang di selenggarakan pada tiga daerah, Padang Pariaman, Bukittinggi dan Tanah Datar.

“Residensi pelaku budaya asing kali ini tahun kedua, tujuan dari kegiatan ini merupakan usaha Kemendikbud ristek melalui Dirjend kebudayaan untuk memajukan kebudayaan Nasional. Di harapkan melalui program ini, ekosistem kebudayaan silek dapat dikenal didunia internasional dan umumnya kebudayaan di ranah Minangkabau,” ujar Dewa Ayu.

“Harapannya adalah bagaimana teman-teman budaya khususnya pelaku budaya silek dapat juga belajar budaya peserta residensi sehingga terdapat proses transfer kebudayaan, suksesnya kegiatan pada malam ini tidak luput juga dari kerja dan kolaborasi, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar yang sudah mendukung kegiatan ini, juga kepada perguruan silek Karang Indah dari Padang Pariaman, perguruan silek Harimau Agam Bukittinggi dan juga perguruan silek Sungai Patai Tanah Datar. Terima kasih banyak kepada panitia dan khususnya masyarakat Tanah Datar, Bukittinggi dan Padang Pariaman yang sudah menerima peserta residensi pelaku budaya asing seperti saudara,” pungkas Dewa Ayu Okta. (d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *