Kota Padangpanjang

Sertijab Rutan Padang Panjang: Haru Perpisahan, Tantangan Pembenahan Menanti Pimpinan Baru

26
×

Sertijab Rutan Padang Panjang: Haru Perpisahan, Tantangan Pembenahan Menanti Pimpinan Baru

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Padang Panjang

Suasana khidmat dan emosional mewarnai prosesi serah terima jabatan (sertijab) Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Senin (20/4/2026). Di tengah nuansa perpisahan, tongkat komando resmi berpindah dari Torkis Freddy Siregar kepada Novri Abbas—menandai babak baru yang diiringi harapan sekaligus beban pembenahan.

Acara yang dihadiri unsur Forkopimda, aparat penegak hukum, hingga organisasi profesi ini tidak hanya menjadi seremoni pergantian jabatan. Lebih dari itu, forum ini mencerminkan ekspektasi besar terhadap arah baru pengelolaan pemasyarakatan di daerah tersebut.

Dalam sambutan perpisahannya, Torkis menyampaikan rasa terima kasih sekaligus refleksi atas masa tugas yang penuh dinamika. Dengan nada haru, ia mengakui masih adanya pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.

“Banyak suka duka yang telah kita lalui bersama. Semoga ke depan rutan ini semakin lebih baik,” ujarnya.

Pergantian ini sekaligus menjadi ujian awal bagi Novri Abbas. Ia menyadari bahwa jabatan yang diembannya bukan sekadar posisi administratif, melainkan tanggung jawab besar untuk melanjutkan capaian sekaligus menjawab berbagai tantangan lama.

“Fondasi sudah baik, tapi harus ditingkatkan. Kami butuh dukungan semua pihak agar tugas ini berjalan optimal,” tegas Novri, memberi sinyal keterbukaan terhadap kolaborasi lintas sektor.

Sorotan tajam datang dari Kunrat Kasmiri yang menekankan bahwa inti dari sistem pemasyarakatan bukan pada pengurungan, melainkan pembinaan. Ia mendorong agar Rutan Padang Panjang lebih progresif dalam menghadirkan program edukasi, termasuk membuka akses pendidikan formal bagi warga binaan.

Menurutnya, warga binaan harus dipersiapkan kembali ke masyarakat dengan bekal nyata—bukan sekadar menjalani masa hukuman.

“Penjara bukan akhir, tapi awal perubahan,” tegasnya, sembari mengingatkan pentingnya inovasi dan penyelesaian persoalan klasik, terutama keterbatasan fasilitas.

Tak hanya itu, ia juga membuka ruang kritik sebagai bagian dari kontrol publik, selama dilandasi niat membangun—sebuah pernyataan yang mempertegas pentingnya transparansi dalam sistem pemasyarakatan.

Dukungan serupa datang dari Rifnaldi yang berharap kepemimpinan baru mampu membawa rutan ke arah yang lebih maju dan adaptif.

Di balik kemeriahan acara yang diwarnai pertunjukan seni randai dari warga binaan, tersimpan pesan kuat: perubahan di tubuh pemasyarakatan tidak bisa lagi ditunda. Pergantian pimpinan harus menjadi momentum nyata untuk berbenah—dari sistem pembinaan hingga kualitas fasilitas.

Kini, sorotan tertuju pada kepemimpinan baru. Publik menunggu, apakah estafet ini akan melahirkan terobosan, atau sekadar melanjutkan ritme lama tanpa perubahan berarti(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *