Kabupaten Tanah Datar

Menag Soroti Kekuatan Adat-Agama Tanah Datar, Dorong Jadi Model Pembangunan Nasional

17
×

Menag Soroti Kekuatan Adat-Agama Tanah Datar, Dorong Jadi Model Pembangunan Nasional

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan ketertarikannya terhadap Sumatera Barat—khususnya Kabupaten Tanah Datar—bukan tanpa alasan. Daerah ini dinilainya menyimpan kekuatan kearifan lokal yang relevan untuk dijadikan rujukan pembangunan nasional, terutama dalam merawat harmoni antara agama dan budaya.

Pernyataan itu disampaikan saat bersilaturahmi dengan Bupati Tanah Datar Eka Putra, didampingi Wakil Bupati Ahmad Fadly, jajaran pemerintah daerah, serta pimpinan kampus UIN Mahmud Yunus Batusangkar di Indojolito, Batusangkar, Selasa (28/4).

“Dari Sumatera Barat banyak lahir tokoh nasional. Di sini juga hidup kearifan lokal yang luar biasa—agama tidak bertentangan dengan adat. Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi kekuatan yang mendorong saya datang,” tegas Menag.

Kunjungan tersebut sekaligus menjawab undangan kampus untuk memberikan kuliah umum dan meresmikan gedung perkuliahan terpadu. Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti berbagai program keagamaan yang telah dijalankan pemerintah daerah, yang dinilai konkret dan berdampak.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah program “Satu Rumah Satu Hafiz/Hafizah”. Bupati Eka Putra mengungkapkan, program ini telah melahirkan lebih dari 20 ribu penghafal Al-Qur’an di Tanah Datar—angka yang bukan sekadar statistik, tetapi cerminan arah pembangunan berbasis nilai.

“Program ini mendapat perhatian khusus dari pak Menteri. Ini bukti bahwa gerakan keagamaan yang kita bangun tidak berhenti di slogan, tetapi nyata di tengah masyarakat,” ujar Eka Putra.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa program tersebut akan terus diperkuat. Bagi pemerintah daerah, mencetak generasi penghafal Al-Qur’an bukan hanya soal identitas religius, tetapi juga strategi sosial—membangun benteng moral sekaligus menghadirkan ketenangan kolektif di tengah masyarakat.

“Ini bukan sekadar mencetak generasi Islami, tetapi menghadirkan keberkahan. Kita yakini, semakin banyak penghafal Al-Qur’an, semakin kuat pula perlindungan dan rahmat Allah bagi daerah ini,” tegasnya.

Kunjungan Menag tidak berhenti pada seremoni. Pemerintah daerah melihatnya sebagai sinyal sekaligus dorongan untuk mempercepat penguatan program keagamaan yang terukur dan berkelanjutan.

“Banyak masukan yang kami terima. Ini menjadi energi baru bagi kami untuk bekerja lebih tajam ke depan,” pungkas Eka Putra.

Di tengah dinamika pembangunan nasional yang kerap berjarak dari akar budaya, Tanah Datar justru menunjukkan arah sebaliknya: menjadikan nilai lokal sebagai fondasi. Dan dari sana, perhatian pusat mulai mengarah—mencari model yang tidak hanya maju, tetapi juga berakar(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *