sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Upaya pelestarian budaya di Sumatera Barat mulai bergeser arah. Tak lagi berhenti pada romantisme tradisi, kini pemerintah mendorong transformasi budaya menjadi kekuatan ekonomi. Hal itu mencuat dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pelestarian nilai tradisi Silek Pangian yang digelar di Gedung Controller, Selasa (14/4).
Kehadiran Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa silek tidak boleh lagi diposisikan semata sebagai warisan masa lalu, melainkan harus menjadi bagian dari masa depan ekonomi masyarakat.
“Ini bukan sekadar menjaga tradisi, tapi bagaimana tradisi bisa hidup, berkembang, dan memberi nilai tambah secara ekonomi,” tegasnya.
Pangian sendiri kini didorong sebagai nagari percontohan dalam program Nagari Creative Hub (NCH), sebuah inisiatif yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk membangun ekosistem kreatif berbasis kearifan lokal.
Dalam konteks ini, Silek Pangian dinilai memiliki modal kuat. Bukan hanya sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai identitas budaya Minangkabau yang sarat filosofi. Namun, tantangan terbesar bukan pada pelestarian, melainkan bagaimana mengemasnya agar relevan dan bernilai jual.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco Ruseimy yang membuka kegiatan tersebut secara lugas menyoroti pentingnya digitalisasi budaya. Ia menilai tanpa sentuhan teknologi, tradisi berpotensi tergerus zaman.
“Kalau tidak masuk ke ruang digital, kita hanya akan jadi penonton. Silek harus tampil, dikenal, dan dipasarkan ke dunia,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan budaya kini tidak bisa dilepaskan dari strategi promosi digital dan industri kreatif. Generasi muda didorong untuk menjadi aktor utama, bukan sekadar pewaris pasif.
Wali Nagari Pangian Hijrah Adi Syukrial melihat momentum ini sebagai langkah awal menghidupkan kembali jati diri nagari melalui semangat “mambangkik batang tarandam”.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini akan diukur dari dampaknya, bukan seremoninya.
“Kalau hanya berhenti di acara, kita tidak ke mana-mana. Harus ada hasil nyata, ekonomi masyarakat harus bergerak,” ujarnya.
Kehadiran sejumlah pemangku kepentingan, termasuk anggota DPRD Sumbar seperti Rony Mulyadi dan Jefri Masrul, DPRD Tanah Datar Jonnedi, Surva Hutri, Asrul Jusan memperlihatkan bahwa program ini mendapat dukungan politik yang cukup kuat. Namun demikian, pekerjaan besar masih menanti: memastikan kesinambungan program, pendampingan, serta akses pasar bagi produk budaya yang dihasilkan.
Bimtek ini pada akhirnya membuka satu pertanyaan krusial: apakah Silek Pangian akan benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi, atau hanya kembali menjadi agenda tahunan tanpa dampak signifikan?
Di tengah derasnya arus modernisasi, Pangian kini berada di persimpangan—antara menjaga tradisi sebagai simbol, atau mengolahnya menjadi sumber kesejahteraan. Pilihan itu akan menentukan, apakah silek tetap hidup di gelanggang, atau sekadar tinggal dalam ingatan(d13)












