Kabupaten Tanah Datar

Roti Berjamur di SDN 11 Baringin, Owner SPPG Balai Janggo Tegaskan: “Itu Bukan Wilayah Distribusi Kami”

84
×

Roti Berjamur di SDN 11 Baringin, Owner SPPG Balai Janggo Tegaskan: “Itu Bukan Wilayah Distribusi Kami”

Sebarkan artikel ini

sumbar.relasipublik.com //  Tanah Datar

Isu temuan roti berjamur yang diterima siswa SDN 11 Baringin, Guguak Katitiran Nagari Baringin, memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Owner SPPG Balai Janggo ( Pagaruyung I) Veny Friska Novia, memberikan klarifikasi tegas sekaligus bantahan atas keterlibatan pihaknya dalam distribusi roti yang dipersoalkan.

Dalam pernyataan resminya, Veny menegaskan bahwa SDN 11 Baringin bukan termasuk wilayah distribusi SPPG Balai Janggo ( Pagaruyung I) yang berlokasi di Balai Janggo Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas.

“Perlu kami luruskan secara profesional dan terbuka, SDN 11 Baringin bukan bagian dari sekolah yang menjadi tanggung jawab distribusi SPPG Balai Janggo. Kami tidak memiliki kontrak maupun pengiriman rutin ke sekolah tersebut,wilayah distribusi kami adalah Saruaso dan Kubang Landai. ” tegas Veny.

Ia menyayangkan beredarnya informasi yang mengaitkan nama SPPG Balai Janggo tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Menurutnya, klarifikasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berpotensi merugikan reputasi usaha yang selama ini dijalankan dengan standar pengawasan ketat.

“Kami sangat memahami kekhawatiran orang tua terkait keamanan pangan anak-anak. Namun kami juga perlu menjaga integritas usaha kami. Setiap distribusi yang kami lakukan tercatat jelas, baik dari sisi lokasi maupun jumlah penerima. SDN 11 Baringin tidak termasuk dalam daftar tersebut ” jelasnya.

Veny menambahkan, selama ini pihaknya menerapkan prosedur pengecekan kualitas sebelum produk keluar dari dapur produksi. Mulai dari pemeriksaan tanggal kedaluwarsa, kondisi fisik makanan, hingga pengemasan akhir sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah yang menjadi mitra resmi.

Meski tidak terlibat, ia tetap menyampaikan empati terhadap pihak sekolah dan siswa yang terdampak.

“Terlepas dari siapa penyedianya, kami turut prihatin atas kejadian ini. Anak-anak harus mendapatkan makanan yang aman dan layak. Kami mendukung evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Polemik ini menjadi pengingat bahwa ketelitian dalam menyebut sumber distribusi sangat krusial, terutama ketika menyangkut konsumsi anak sekolah. Di tengah derasnya arus informasi, klarifikasi berbasis data menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan akuntabilitas tetap berada pada pihak yang tepat(d13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *