sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, memicu bencana alam yang mengakibatkan sejumlah infrastruktur vital rusak hingga putus total, Rabu (13/5). Dampak paling parah terjadi di beberapa titik di Nagari Taluk dan Nagari Pangian, menyebabkan warga sempat terisolasi dan aktivitas masyarakat terganggu.
Berdasarkan laporan monitoring yang dilakukan jajaran Polsek Lintau Buo, sedikitnya tujuh jembatan mengalami kerusakan serius akibat derasnya aliran sungai yang meluap. Bahkan beberapa di antaranya putus total dan tidak dapat dilalui.
Di Nagari Taluk, Jembatan Tanjung Anau yang berada di Jorong Aliran Sungai dilaporkan putus sehingga sekitar 60 kepala keluarga sempat terisolasi. Selain itu, Jembatan Sigontiang juga mengalami kerusakan serupa yang berdampak terhadap lima kepala keluarga di kawasan tersebut.
Kerusakan paling berat juga terjadi pada Jembatan Sipring di Jorong Taruko yang mengalami rusak berat, sementara Jembatan Batu Patah dan Jembatan Gontiang dilaporkan putus total akibat terjangan arus sungai yang semakin deras.
Sementara di Nagari Pangian, Jembatan Lubuk Bauang di Jorong Patameh mengalami rusak berat dan Jembatan Pisang Kolek dinyatakan putus, sehingga akses masyarakat terganggu.
Tidak hanya infrastruktur umum, bencana ini juga menghantam permukiman warga. Data sementara mencatat dua unit rumah mengalami rusak berat, 67 rumah rusak ringan, serta dua unit rumah hanyut terbawa arus.
Meski kerusakan yang ditimbulkan cukup besar, beruntung tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, nilai kerugian materil hingga kini masih dalam proses pendataan dan belum dapat ditaksir secara pasti.
Kapolsek Lintau Buo, Iptu Mon Irzal, mengatakan pihak kepolisian bersama unsur Forkopimca dan lintas sektoral langsung turun ke lapangan untuk melakukan penanganan awal serta memastikan kondisi masyarakat tetap aman.
“Personel langsung mendatangi lokasi terdampak, membantu membersihkan rumah warga serta melakukan koordinasi dengan Forkopimca dan lintas sektoral untuk percepatan penanganan dampak bencana,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, akses Jalan Lintas Setangkai–Sijunjung yang sebelumnya terganggu kini mulai dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, meskipun masyarakat diminta tetap waspada mengingat potensi hujan susulan masih dapat terjadi.
Bencana ini kembali menjadi peringatan serius terhadap tingginya risiko hidrometeorologi di wilayah Tanah Datar. Selain mempercepat penanganan darurat, pemerintah daerah juga dituntut segera melakukan pemetaan wilayah rawan serta penguatan infrastruktur penyangga agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan tiba(d13)












