sumbar.relasipublik.com // Medan
Silaturahmi Akbar Perkumpulan Keluarga Luhak Nan Tuo (PKLTD) Rantau Sumatera Utara, Sabtu (25/4/2026) malam, bukan sekadar temu kangen. Di Gedung Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3), ratusan perantau asal Tanah Datar berkumpul dalam suasana hangat, namun sarat makna: memperkuat solidaritas, merawat identitas, dan menyambung peran untuk kampung halaman yang tengah berbenah pasca bencana.
Kehadiran langsung Bupati Tanah Datar, Eka Putra, bersama istri Ny. Lise Eka Putra, menjadi sorotan. Bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena pengakuannya yang jujur—bahwa kehadirannya kali ini adalah “utang janji” yang harus ditunaikan.
“Saya bukan takut kepada ketua, tetapi takut kepada Allah. Janji itu utang,” ujar Eka Putra, disambut tepuk tangan hadirin. Pernyataan itu bukan sekadar retorika, melainkan penegasan moral di tengah budaya politik yang kerap abai pada komitmen.
Namun, lebih dari itu, Bupati juga membuka ruang refleksi. Ia tidak menutup-nutupi bahwa kepemimpinannya masih memiliki kekurangan. Di hadapan para perantau, ia justru mengundang kritik dan masukan—sebuah sikap yang jarang terdengar dalam forum seremonial.
Di balik suasana hangat, realitas pahit turut disinggung. Dua tahun terakhir, Tanah Datar dilanda bencana berturut-turut. Kondisi ini menjadi ujian berat bagi pemerintah daerah, sekaligus panggilan bagi para perantau untuk tidak sekadar menjadi penonton dari kejauhan.
Eka Putra menegaskan, pembangunan tetap berjalan di tengah keterbatasan—mulai dari perbaikan infrastruktur jalan, normalisasi sungai, pembangunan sabo dam, hingga fasilitas publik lainnya. Namun ia mengakui, semua itu tidak mungkin berjalan tanpa dukungan kolektif, termasuk dari perantau.
“Peran perantau bukan pelengkap, tapi bagian penting dari denyut pembangunan,” tegasnya.
Silaturahmi ini pun menjelma menjadi ruang konsolidasi sosial. Ketua PKLTD Rantau Sumatera Utara, H. M. Yunan Sirhan, menyebut kegiatan ini lahir dari aspirasi masyarakat—sebuah indikasi bahwa kebutuhan akan kebersamaan masih kuat di tengah kehidupan rantau yang kompetitif.
“Antusiasme yang hadir malam ini adalah bukti bahwa ikatan itu belum putus,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan penyelenggaraan yang semakin kompleks dibanding tahun sebelumnya. Namun, justru di situlah semangat gotong royong diuji—dan terbukti masih hidup.
Sementara itu, Ketua BM3 Sumatera Utara, H. Farianda Putra, melihat momentum ini sebagai titik awal memperkuat sinergi yang lebih konkret antara pemerintah daerah dan komunitas perantau. Tidak hanya dalam bentuk seremonial, tetapi juga kontribusi nyata.
“Kita tidak ingin silaturahmi berhenti di pertemuan. Harus berlanjut menjadi gerakan,” tegasnya.
Di tengah arus urbanisasi dan jarak geografis yang memisahkan, Silaturahmi Akbar ini mengirim pesan kuat: bahwa identitas, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap kampung halaman tidak boleh luntur. Perantau bukan sekadar pencari nafkah di negeri orang, tetapi juga penjaga denyut pembangunan di tanah asal.
Dan dari Medan, pesan itu bergema jelas—kebersamaan bukan nostalgia, melainkan kekuatan(d13)












